Sabtu, 28 Februari 2015

Maksiat kok Bangga?



First, gua bukannya mau sok sok ngajarin mana yang bener mana yang gag karna kadang gua juga rada² gag bener. Cuman sebagai manusia, kita kan udah dikasih akal pikiran sama Allah, yo digunain dengan pantaslah. Gua memang bukan orang yang agamis (sholat aja masih sering bolong) tapi seenggagnya gua masih tetap berusaha untuk jadi seorang hamba yang taat.

Apa yang gua denger hari ini bener² bikin gua shock. Sebut saja seorang tetangga gua yang akrab dipanggil Babe mengatakan hal yang sama sekali gag pantas untuk orang seusia beliau. Gua gag tahu darimana awal pembicaraan Babe dengan rekan²nya, namun yang pasti Babe melontarkan pernyataan bangga akan apa yang beliau lakukan. "Saya emang gag Sholat. Ngapain sholat, toh orang jahat masih tetap ada." Kurang lebih seperti itulah pernyataan yang dilontarkan Babe yang diiringi gelak tawanya.

Harusnya Babe mikir, dengan Sholatpun terkadang masih banyak dari kita yang berbuat salah, apalagi gag Sholat, ya makin salah dong. Ibarat lo naik gunung, para pendaki yang udah prepare segala alat seperti GPS, Peta, dll pun terkadang masih bisa salah jalur trek juga. Apalagi yang gag ada alat sama sekali, sudah pasti bakalan nyasar.

Gua geram, pengen banget rasanya berargument sama Babe. Cuman gua tahu Babe orang dengan tipikal gag mau denger omongan orang lain. Gua udah ngebayangin kalau gua nasehatin Babe, pasti bakal dibilang "Kamu masih muda, memangnya tahu apa? Saya ini lebih dulu ngerasain asam pahitnya dunia." Shiitt, gua tahu mendiamkan suatu persoalan itu gag baik, tapi daripada gua kesulut emosi duluan gua lebih milih beranjak dari tempat ini. Semoga Babe dapat pencerahan.

Padang, Sumatera Barat


***

Kamis, 26 Februari 2015

di(KERJA)in PT. MANDIRI CIPTA HARMONI (MACHO)



Segera mendapat pekerjaan dan memiliki penghasilan sendiri adalah dambaan setiap job seeker, termasuk juga dengan gua dan inilah pengalaman gua ketika di(kerja)in di PT. CIPTA HARMONI (MACHO).

Gua memperoleh informasi tentang perusahaan ini ketika gua melihat² lowongan yang terpampang di papan informasi di kantor pos pusat. Perhatian gua berhenti ketika melihat lowongan ini. Job yang ditawarkan sesuai dengan apa yang gua cari, selain itu semua syarat bisa gua penuhi.

Gua hanya 1½ hari bergabung dengan perusahaan ini. Dimulai dari tanggal 24 sampai 25 Februari 2015. Gua melamar posisi sebagai Administrasi tapi gua gag bisa langsung merasakan posisi tersebut. Kenapa? It's just a simple answer, posisi itu memang tidak pernah ada. Gua malah diarahkan untuk masuk di Management Trainee (MT). Rasa penasaran adalah alasan kenapa gua masih tetap bersedia untuk bergabung dengan perusahan ini, dan rasa penasaran ini mulai terkuak sedikit demi sedikit. Perusahaan ini berorientasi untuk menciptakan manager² muda baru yang ujung²nya pasti menjadi manager marketing. Dari 8 orang pelamar yang datang hari itu, gua yakin semua memiliki tujuan yang sama yakni ingin menempati posisi yang mereka minati tentunya seperti Admin, Gudang, SPV, dll. Tapi gua yakin seyakin  air laut itu memang asin bahwa posisi² tersebut tidaklah pernah ada.

Persepsi awal gua tentang perusahaan ini sebenarnya cukup positif. Gua yakin jika semua perusahaan menerapkan sistem yang dijalankan PT. MACHO ini, sistem marketing perusahaan pasti akan sangat fantastis. Namun ya itu, sangat disayangkan, betapapun baiknya sistem perusahaan jika kejujuran tidaklah ada itu sama saja dengan omong kosong. Semua orang diiming-imingi dengan posisi dan gaji tinggi, but trust me impian itu tidak akan pernah terwujud. Kebohongan yang budak² (gua lebih suka menyebutkan istilah "karyawan" dengan sebutan "budak") antara lain :
  • Ketika gua menanyakan kenapa harus observasi kelapangan padahal posisi yang gua lamar sebagai Admin. Entah apa hubungannya. Consultant gua cuman menjawab jika semua posisi memang harus merasakan dulu yang namanya observasi lapangan. Fine, untuk penjelasan awal gua terima semua jawaban itu. Sesampai dilapangan, tidak jauh panggang dari api. Ini memang sales! Kami semua  door to door mulai dari sekolahan sampai ke pasar² menawarkan produk sandal refleksiologi BlueID. Modus awal adalah dengan mengaku-ngaku sebagai mahasiswa PKL dari POLTEKES yang mendapat amanat (cie lagaknya sok banget ngaku² mahasiswa) dari Rumah Sakit pusat untuk mensosialisasikan alat kesehatan. Tidak luput juga dengan menjelaskan bahwa akan diadakan seminar tanggal sekian di RS tertentu, padahal semua itu hanya omong kosong (lagi). Gua yang hanya menjadi pemerhati kala itu cuman bisa memandang dengan ekpresi datar, padahal pikiran gua ngakak abis. That's was so funny man when see them offering that fucking product.
  • Gratis! Ya itu adalah senjata andalan. Budak² itu mengaku jika alat ini adalah gratis. Bahkan parahnya, budak² itu mengatakan kalau alat kesehatan ini adalah subsidi dari pemerintah sehingga bisa gratis. Fuck banget gag tuh.
  • Halalkan segala kata. Gua rasa itu adalah motto budak² itu.
  • Semua budak diwajibkan untuk datang mulai dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore. Sebenarnya mereka nyari karyawan manusia apa robot? Hahaha...gag peduli mau tanggal merah kek, mau ada tsunami kek, yang penting para budak itu tetap harus bekerja agar target perusahaan bisa bisa tercapai.
  • Para budak itu sangat handal dalam hal pendekatan terhadap anak² baru. Cara bicara mereka, cara mereka mengambil hati para anak baru sungguh sangat manis. Untuk yang satu ini gua acungin jempol, setidaknya gua bisa dapat trik² dalam hal PDKT. Siapa tahu trik² itu manjur kalau gua mau nembak cewek nantinya. Hahahaha....
Jreng...jreng....jadi inilah kesimpulannya :

PT.MACHO akan selalu memasang iklan lowongan kerja ini dengan berbagai macam posisi (yang sebenarnya tidak pernah ada) yang sangat menggiurkan (awas iler lo keluar tuh). Satu-satunya posisi yang ada hanyalah Management Trainee (MT).

Tulisan gua ini bukan bermaksud untuk mencemarkan nama tertentu (padahal memang sudah tercemar) Gua cuman sharing atas apa yang sudah gua alami dengan PT. MACHO ini. Gua cuman gag mau adalagi yang masuk jebakan betmen menjadi Sales produk kesehatan yang gag jelas (segag jelas hubungan percintaan gua, apa sih) apa dan bagaimanya itu, tapi kalau lo, lo, dan lo pada masih mau mencoba dan merasa cocok dengan perusahaan itu silahkan dicoba. Gua gag berniat menutup pintu rezki atau apapun itu. Buat gua pribadi, gag deh sama perusahaan absurb kayak gini. Hahaha... Gua menceritakan hal ini, semata-mata hanya ingin berbagi pengalaman saja. Sekian dulu, salam worka holic.


Padang, Sumatera Barat


***

Kamis, 19 Februari 2015

Jembatan Siti Nurbaya, Peninggalan Masa Lampau yang Tetap Memukau



Hallo Sobat Blogger semua, apa kabar? Semoga kabar baik selalu ya...
       
Sebenernya gag ada yang spesial ditanggal 19 Februari kali ini, gua masih berstatus single dan pengangguran (kapan kerjanya?) seperti biasa. Pagi ini gua bangun dengan rada² malas, kota Padang yang diguyur hujan sedari kemarin membuat suasana dingin sedingin hati yang tak mendapat kehangatan lagi tsaahhh... Sambil ngesot² (becanda) gua pergi mandi, setelah itu sarapan pagi dengan menu gulai telur ayam + sayur tumis kangkung buatan Bunda Aan. Uhh, suedapp coyy...

Gua punya kebiasaan kalau lagi makan ya harus sambil nonton tv, kalau hal ini gag dilakuin kurang afdol rasanya. Gonta-ganti channel, gua berhenti disalah satu siaran dengan ikon burung elangnya yang terkenal itu. Melihat beberapa berita gua baru ngeh kalau sekarang itu Hari Imlek. Bodo ah...gag ngaruh juga sama kejombloan dan kepengangguran gua. Nyam nyam nyam dan nyam kelar juga ritual sarapan pagi gua. Terus mau ngapain hari ini? Gua masih ngarep² cemas sama pekerjaan yang sudah gua kirim lamarannya dua hari yang lalu, tapi sampai sekarang belum juga ada panggilan. Nasib..nasib... Gua udah mulai bosan berdiam diri di dalam rumah. Setelah sholat Dzuhur, gua putuskan pokoknya hari ini gua harus keluar. Mau kemananya itu, urusan belakangan, yang penting gua jalan, and this's the story of my first solo traveller :))

Motor Honda Supra X 125 gua pacu menuju Selatan. Pantai Padang atau yang lebih masyarakat kenal dengan sebutan Taplau (Tapi Lauik Tepi Laut) menjadi destinasi gua kali ini. Selang 10 menit gua sudah mendarat sempurna di Jln. Samudera yang berada persis di sepanjang Taplau, tapi mendadak gua menjadi moody. Bosan juga tiap hari ke sini.  Gua pengen sesuatu yang beda, pengen pergi ke tempat yang belum pernah gua kunjungi. Mendadak gua terpikirkan akan Jembatan Siti Nurbaya. Salah satu ikonik kota Padang ini belum pernah gua kunjungi sekalipun (malu²in ya masak orang Minang gag pernah ke sana). Cuman masalahnya gua gag tahu dimana lokasi jembatan itu, tapi bodo ah inikan alone traveller, jadi gua harus berani meskipun gua buta akan informasinya. Satu-satunya yang gua ketahui adalah lokasi jembatan itu ada di Selatan Kota, dan itu berarti searah dengan Jln. Samudera ini. Motor pun gua gas semakin jauh ke Selatan. Belok sana belok sini, potong sana potong sini (udah kayak lagu potong bebek angsa aja), akhirnya gua nemuin juga Jembatan yang gua cari²...

Gua melongo, entah karna gua jarang kesini atau karna emang dasarnya gua suka melongo, begitu tiba di jembatan gua langsung berhentiin motor and you must be know what happens next. Yup, jepret sana jepret sini. Selfie sana selfie sini dengan bermodalkan hape Asus Zenfone 4 (hidup user Zeny) gua.

Selfie dulu...

Above and Under of Siti Nurbaya Bridge

Meskipun gua datang siang hari, tapi gua sama sekali gag menyesal. Jembatan Siti Nurbaya agak sepi di jam² segini. Pemandangannya jauh lebih jelas dilihat dari atas. Just for information, Jembatan Siti Nurbaya ini terletak diatas Sungai Batang Aro yang membelah kota Padang dan bermuara di Pantai Padang.

Jembatan Siti Nurbaya

Gag lengkap rasanya berwisata ke Jembatan Siti Nurbaya tanpa mengunjungi langsung tempat dimana nama pemilik jembatan ini dimakamkan. Yup, makam Siti Nurbaya. Namun masalahnya masih sama, gua sama sekali gag tahu dimana lokasinya berada. Iseng² gua mengedarkan (ganja) pandangan ke seluruh antariksa (lebay), dan gua melihat kumpulan anak² yang sedang main cabe²an, eh maksud gua main layangan (layangan cabe kali). Setelah gua nanya dimana lokasi makam Siti Nurbaya, gua dikasih tahu kalau makamnya itu ada di gunung di ujung pantai sana.

Anak² yang sedang bermain layangan.

Setelah mengucapkan terima kasih pada bocah² itu, gua langsung memacu motor menuju bukit.

Bukit Makam Siti Nurbaya

Namun sialnya, perjalanan gua agak berbau scoopy kali ini. Ketika menuju bukit, gua melihat iring²an jenazah yang diarak di dalam tandu oleh warga. Gua sempat ragu, apa gua lanjutkan saja perjalanan ini atau gua sudahi saja. Namun keputusan gua sudah bulat kayak bulatnya donat jajanan gua waktu SD buatan Mandeh.

Iring²an Jenazah

Gua pun memasuki sebuah perkampungan penduduk lokal. Disisi kanan muara banyak terdapat kapal² yang sedang bersandar

Perkampungan Lokal Warga

Pintu gerbang untuk masuk ke bukit makam Siti Nurbaya sudah mulai terlihat. Motor gua tiitipkan diparkiran yang tersedia (ya iyalah diparkiran, masak dipenitipan bayi).


Pintu Gerbang Masuk
Celinguk kanan, celinguk kiri. Pintu gerbangnya koq gag ada penjaga penjual karcisnya ya? Cuman ada 2 kemungkinan, penjaganya emang gag ada atau memang tempat wisatanya lagi tutup!? Senyuman kecurangan setanpun muncul. Asyik nih gag kena tiket masuk, bathin gua berkata. Tanpa ba bi bu lagi gua segera melewati gerbang dan berjalan ke arah kanan yang menjadi satu²nya jalan. Baru beberapa langkah berjalan, gua dipanggil seorang Bapak².  "Tiketnya, nak" ujar si Bapak. Yah, ternyata harus bayar juga. Meskipun tiketnya cuman goceng, tapi gua udah terlanjur senang karna gua kira bakal masuk gratis (dasar otak gratisan).

Tiket Masuk
Jalan menuju makam sudah sangat baik, dengan pemandangan laut disebelah kanan dan hijaunya bukit disebelah kiri sungguh sangat memanjakan mata dan menenangkan jiwa. Selain itu, jangan kaget ketika lewat ada anak² kecil yang menyapa dengan panggilan khas Minang Uda dan Uni. Mereka memang sudah diajarkan untuk selalu bersikap ramah dan menyapa para wisatawan yang berkunjung. Ah, mereka lucu sekali.

Jalan Menuju Makam Siti Nurbaya
Hal pertama yang bakal terlihat adalah sebuah meriam kuno peninggalan Belanda. Cuzzz..selfie lagi. Gua gag berani lama², hawa negatifnya terlalu banyak. Dada gua jadi sesak. Gua langsung ngacir dah...
Meriam Belanda
Gua gag tahu apa ini disebut hoki apa bukan, tapi dalam perjalanan menuju makam akan banyak monyet² asli penghuni bukit yang terlihat. Mereka memang monyet liar, tapi kalau dikasih makan langsung jinak, mungkin hahahaha... Kebetulan gua gag bawa makanan apa-apa, jadi gua cuman motret² mereka aja.
Monyet
Gua juga nemuin bangunan yang rada² membuat gua bingung. Bangunan yang memiliki tulisan BOW dibagian atasnya ini bisa dibilang bangunan gag jelas (kayak hidup gua kali ya gag jelas). Dibilang makam, entah. Dibilang bekas rumah bisa iya bisa enggag juga. Bodo ah, yang penting selfie.

Bangunan "gag jelas" BOW
Rasanya gua udah berjalan cukup lama diatas jalan beton ini. Namun ujung jalan masih belum juga terlihat. Makin lama treknya semakin menanjak. Dasar gua orangnya kurang olahraga, gua langsung ngos²an menuju atas bukit. Mana pengunjungnya lagi sepi, baru sadar ternyata gua sendirian di sini. Sendiri diantara rimbunan suara pohon yang berderik. Hiii....kalau dipikir² ini jalan² gila. Sudah sendirian, gag bawa bekal apa². Suara laut dan pohon kalau didengar kadang seperti bunyi suara kematian. Gua langsung keingat sama keranda jenazah yang gua lihat di jalanan tadi. Gua semakin merinding kala mengingat tujuan gua kesini adalah mau melihat makam juga. Ondeh mandeh, gua koq mendadak merinding disko kayak gini ya...

Naik terusss...
Tujuan utama akhirnya terlihat juga. Thanks God.

Tapi ini koq jalannya buntu ya, makamnya dimana? Sontak gua kesel gag ketulungan. Udah capek² daki gunung (baju gua sampe banjir basah keringat), eh malah ketemu jalan buntu. Ini bener jalannya apa kagag sih?? Eitss,,tunggu dulu. Setelah gua perhatikan, diantara dua celah batu besar ada jalan menyempit yang menuju ke bawah. Mungkin ini jalannya. Sempat ragu, tapi gua tetap pergi ke celah batu tersebut.

Benar ternyata pemirsaaahhhh (pakai huruf hhhhhh), ternyata disinilah makam Siti Nurbaya yang tersohor itu. Makam putih yang dibalut kain orange itu tampak begitu dingin, kesepian, dan sangat terasa mistiknya. Mana posisi gua lagi sendirian disini, gag ada orang sama sekali. Alamak, ngapainlah gua kesini (stupid) >__<

Makam Siti Nurbaya
Cuman berani lihat dari atas. Gua gag bisa turun kebawah selain karna jalan tangga yang curam, gua ngerasa gag boleh aja buat turun kesana (semacam ditolak gitu). Cuman jepret 4 foto, gua langsung ngacir. Gua gag tahan lagi, gua gag mau kejang-kejang disini sendirian. Terlalu banyak energi negatifnya, meskipun disekitar makam juga banyak sih positifnya.

Sepanjang perjalanan turun bukit. Gua gag habis pikir kenapa Siti Nurbaya harus dimakamkan ditempat terpencil seperti itu. Apa mungkin karena kisah percintaannya yang gag kesampaian dengan Syamsul Bahri, sehingga ketika dia meninggalpun tetap dalam kesendirian sama seperti ketika dia hidup, sendiri tanpa ada orang yang dicintai disisi. Entahlah, entah itu benar makamnya atau tidak, yang penting gua puas uas uas uas untuk perjalanan kali ini.

Sebelum pulang, gua sempat singgah dulu di Pasar Raya. Niat awal pengen ngisi perut (laper gara² naik bukit). Gua sebenarnya pengen makan soto, tapi mungkin karna haus entah kenapa gua malah pesen Es Tebak. And you know what?? Harga Es Tebaknya mahal gila. Masak satu gelas porsinya dibandrol 17.000 Rupiah!!??. Besok² males dah makan disini lagi -___-"

Es Tebak "mahalllll"



Biaya Pengeluaran :
>> Beli Bensin                                   = Rp. 10.000,-
>> Tiket Masuk Gunuang Padang     = Rp.   5.000,-
>> Parkir Motor Gunuang Padang     = Rp.   2.000,-
>> Es Tebak                                       = Rp. 17.000,-
>> Parkir Pasar Raya                          = Rp.   2.000,-
           
                                                   Total = Rp. 36.000,-


Padang, Sumatera Barat


***

Sabtu, 14 Februari 2015

(SKSD) Si Kucing Sok Dekat



Apo kaba semuanya, moga sehat ya. Hari ini gua ngerasa fit banget, rasanya badan ini kayak baru bangkit dari kubur dapat suntikan energi dari meteor raja api (ngayal). Setelah seminggu lebih terserang penyakit demam cinta panas, gua putuskan hari ini untuk berangkat ke Padang. Gua pengen kerja. Jemu rasanya lama-lama cuman mendem dalam kamar, ya lah kalau mendem durem mah enak, ini mendem dalam kamar gag ada enaknya sama sekali.

Pukul 14.30 waktu daerah dekat rumah gua, mobil travel (maklum ya gua masih miskin) yang dipesan Mama  udah nangkring di depan halaman rumah. Tanpa lupa melakukan ritual wajib, gua salami tangan Mama dan Papa sembari mohon doa biar gua segera dapat kerja. Good bye kampungku, seenggagnya berkurang satu makhluk jomblo ditempat ini, hahaha....

Gua gag akan ceritain apa yang terjadi selama di perjalanan, toh gag ada juga hal menarik yang bagus untuk diceritakan. Dua jam perjalanan, akhirnya gua tiba di Padang. Terus gua mau kemana nih, gua mau tinggal dimana? Arghhh...gua mendadak panic at the disco. Apa gua harus nge-gembel di kolom jembatan? Apa gua harus minta-minta di pelataran masjid. Ah, gag sampai segitunya lah.

Di Padang, gua hidup menumpang (ngenes banget) di rumah Adang gua. Oh iya, yang belum tahu Adang itu apa (sejenis makanan mungkin) gua bakal jelasin dikit. Adang merupakan sebutan dalam kekerabatan adat Minangkabau kepada saudara laki-laki tertua dari orang tua. Adang yang berasal dari kata gadang (yang kemudian dipersingkat menjadi Adang) dalam bahasa Minang berarti besar. Jika dimasukkan kedalam sebutan kekerabatan, Adang berarti tua. Jadi Adang adalah saudara laki-laki tertua orang tua. Ngerti kagag, kalau gag ya yang pasti Adang itu kakak laki-laki tertua dari Ibu gua (woyyy ngomong dong dari tadi, ngoceh gag jelas aja bisanya!!)

Tibanya di rumah Adang, gua disambut pake mercon dan kembang api oleh Istri Adang yang biasa gua panggil dengan sebutan Bunda. Diliat dari rona wajahnya, Bunda kayaknya baru bangun tidur. Kentara banget terlihat dari iler raut wajahnya. Gua sebagai laki-laki yang baik hati pake banget nget nget langsung menyalami tangan Bunda. Usut punya kusut ternyata Bunda kena demam juga, hahaha kasian banget. Kenapa kasian? Ya kasian aja, lagi sakit tapi suami gag ada di rumah. Adang kerja di Jakarta. Berangkat 6 hari kemudian pulang cuman 2 hari. Resiko pekerjaan. Salah satu alasan gua kesini biar bisa nemenin Bunda di rumah yang sendirian.

Gua capek, bukan karna perjalanannya tapi karna suhu kota Padang yang emang terkenal panas cetar membahana badai ulalala membuat gua lemes. Gua pun setelah meletakkan barang-barang ke dalam kamar, memutuskan untuk duduk-duduk di samping pintu di ruang tengah. Lagi asyik selonjaran, eh..tiba-tiba nongol makhluk yang gak gua ketahui sama sekali dari mana datangnya. Makhluk yang semenjak 5000 SM ini sudah dipelihara manusia sebagai hewan peliharaan. Yup, betul banget. Kucing!!!

Walaupun gua pencinta berat ama hewan yang satu ini, tapi gua belum pernah melihat kucing ini sebelumnya. Gua bahkan gag tahu kalau Bunda juga punya peliharaan. Awalnya gua ngerasa risih. Gag ada hujan gag ada angin, tiba-tiba ini kucing langsung aja sok manja-manjaan ama gua. Kaki gua yang lagi selonjoran diusap-usap menggunakan punggungnya. Kucing aneh, gua ngebathin. Setahu gua, kucing gag akan seakrab itu sama orang asing. Tapi yang ini beda. Apa gua terlalu berkharisma ya sampai-sampai kucing yang belum pernah gua temui langsung terkesima!? Hahahaha #TimpukBata...

Satu hal yang pasti, gua bakal betah banget dirumah kalau ada makhkuk satu ini. Jomblo berkharisma dengan Kucing penuh pesona??? Thats would be absolutelly a fucking perfect combination. Hahahaha...

Buat yang penasaran, nih penampakan si Kucing
Si Kucing Sok Dekat

Padang, Sumatera Barat


***

Rabu, 11 Februari 2015

Gampangnya Mengurus SKCK (First Article)



Sebagai postingan perdana di blog ini, gua sempat bingung hendak mau posting apa. Apalagi gua yang hanya seorang blogger amatiran selalu punya problem klasik sebagai blogger pemula yakni bingung hendak menulis apa.

Setelah kira² dua jam gua blogwalking wara-wiri singgah sana sini ke berbagai macam blog, gua nangkap sebuah kutipan bahwa memposting sebuah artikel itu tidak usah takut apakah tulisan yang elo posting itu apakah bakal diliat dan dikoment oleh banyak orang. Posting saja apa yang elo mau, posting saja apa yang sedang ada dikepala lo saat ini. Lalu gua pun mikir, baiknya gua posting apa ya?? Mendadak muncul bola lampu yang menyala disebelah kanan gua (itu loh kayak yang ditipi-tipi saat seseorang mendadak dapat ide lalu ada bola lampu menyala yang nongol).

Gua sampe detik nulis ini blog masih berstatus sebagai pengangguran (haduh kasian amat),  malu lah udah seumuran ini masih belum punya pekerjaan juga. Berawal dari keadaan gua yang pengangguran inilah gua berniat untuk mencari kerja ke ibukota provinsi tempat gua tinggal. Tentu saja, jika seseorang hendak melakukan perjalanan diharuskan membawa perbekalan, gua sebagai job seeker pun kudu punya semua surat yang lengkap dalam melamar pekerjaan nantinya, dan salah satu yang terpenting adalah Surat Kelakuan Catatan Kepolisian a.k.a SKCK.

Meskipun kondisi badan yang kurang fit karna gua sedang demam, jam 10.30 gua tetap memaksakan diri pergi untuk mengurus SKCK gua. Motor Honda Beat putih pun gua gas menuju ke kantor polisi, selang 10 menit gua tiba dan disambut dengan tarian penyambutan. Gag lah, gua cuman becanda hehe... Kantor polisinya begitu sepi, tapi gua maklumin lah namanya juga kantor polisi di daerah kecil ya pastinya gag sesibuk kantor-kantor polisi yang ada diperkotaan.

Gua pun melangkah menuju ke ruang Permohonan Penerbitan Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Di dalam ruang itu sudah ada seorang perempuan petugas administrasi berpakaian serba putih yang tengah menghadap kearah layar komputer keluaran hP. Sejenak gua sempat gagu, gua lagi ada dikantor polisi apa lagi ada di rumah sakit yakk?? Lamunan gua buyar saat ditegur oleh mbak-mbak admin tersebut.

"Ada yang bisa dibantu?", katanya ramah. Gua pun agak silap kata, "eh..iya mbak, saya mau buat SKCK". Mbak itu pun membalas, "Mau buat baru apa diperpanjang?", tanyanya. Gua pun jawab kalau gua mau buat baru. Gua kemudian menyerahkan 2 buah map berwarna merah, fotocopy KTP, pas foto ukuran 4x6 sebanyak 6 lembar dan seperangkat alat sholat (ehh..yang terakhir gag beneran).

Gua kemudian diberikan 2 formulir yang harus gua isi. Dikarenakan suasana yang agak panas, gua putuskan untuk mengisi formulir itu didalam kulkas diberanda kantor. Tepatnya dibawah pohon dekat parkiran motor. Lumayan adem disana. Set..set..set..gag nyampe 15 menitan, semua formulirnya udah gua isi lengkap. Gua pun kembali ke Yang Maha Kuasa ruangan tempat mbak-mbak berseragam putih tadi. Formulir gua pun diperiksa, dan setelah itu gua diarahkan keruangan dilorong sebelah kiri untuk rekam fisik.

Di ruang rekam fisik, lagi-lagi gua disuruh ngisi sebuah formulir. Formulir kali ini lebih kecil dan banyak kotak-kotaknya. Petugas di ruang rekam fisik yang belakangan gua ketahui bernama Bpk. Sumardi ini nge guide gua ke meja kecil dimana warna meja itu sangat hitam. Jari tangan gua diarahkan ke meja itu, dan gua pun sadar bahwa warna hitam itu adalah tinta untuk sidik jari yang akan ditempelkan di formulir yang banyak kotak-kotaknya itu.

Setelah sepuluh sidik jari tangan gua dicetak diatas kertas, gua dikasih sabun colek dan disuruh untuk mencuci tangan di musholla di halaman kantor. Busyeett, cemong banget tangan gua kayak tukang bengkel habis ngebongkar mobil jeep. Setelah mencuci tangan, gua pun balik ke ruang rekam fisik. Biaya rekam fisiknya cukup murah, hanya Rp. 15.000,-

Rekam fisik pun selesai, gua diarahkan oleh Bpk. Sumardi dengan suara bassnya ke ruangan dimana gua ambil formulir permohonan penerbitan surat kelakuan catatan kepolisian tadi. Mbak-mbak berseragam putih itu menerima formulir rekam fisik gua. Gag berselang lama, ya sekitar 5 menitan lah, nama gua dipanggil dan SKCK gua pun jadi. Karna alasan gua membuat SKCK ini adalah untuk melamar pekerjaan nanti, mbak-mbak itu menyarankan gua untuk mem-fotocopy SKCK tersebut sebanyak 7 lembar.


SKCK
Gua pun langsung menuju tempat fotocopy yang ada disamping kantor polisi, setelah itu seluruh copyan dari SKCK dilelalisir oleh mbak-mbak tadi. Disini gua kena biaya administrasi sebesar Rp. 15.000,- Jadi, total keseluruhan biaya dalam pembuatan SKCK ini adalah sebesar Rp. 30.000,-


Well, setelah semuanya selesai gua pun langsung cabut pulang menuju rumah. Suasana yang panas dan bolak-balik sana sini membuat kepala gua pusing. Sekitar pukul 12.00 siang gua tiba dirumah dan langsung menghempas badan keatas kasur. That's enough for today.



Lubuk Basung, Agam


***