Jumat, 01 Mei 2015

Menyerah? Jangan Harap !!!



Beuh, debu-debu di blog ini sudah menebal seperti karat di anjungan kapal saja. Sorry to say guys, gua baru sempat nulis lagi karna frekuensi  mood gua akhir-akhir ini sedang pasang surut (read, labil). O yeah, this is May and you should already know that today is May Day. 1 Mei adalah harinya para buruh dan sekarang di Bundaran HI dan sekitar Sudirman sana semuanya lagi pada demo. Manusia tumpah ruah di jalanan, but postingan kali ini gag akan ada sangkut pautnya dengan buruh hehehe…
By the way, anyway and the busway (apa sih gaje lo) lo pernah gag ngerasain kegagalan? Gua rasa pasti pernah lah ya. Entah itu kegagalan dalam pertemanan, pendidikan, maupun percintaan. OK gua akui kalau poin yang terakhir itu emang nyesek banget di dada, trust me I know how that’s feeling. Tapi bukan itu yang mau gua bahas, kali ini gua mau bahas tentang kegagalan gua dalam pendidikan.

Flashback ke tahun 2009. Gua ingat banget tahun itu, tahun ketika gua lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan rasa percaya diri gua ngelamar ke sebuah sekolah paling favorite di Provinsi gua. Sekolah yang berada di tepian Danau Maninjau nan indah. Sekolah yang memiliki asrama, seragam seperti taruna dan kurikulum yang sangat baik. Beuhh, gua pasti keren kalau gua bisa sekolah disini, seperti itulah pikiran gua kala itu. Semua syarat dan test (fisik dan tertulis) gua lalui dengan lancar, dan hari pengumuman kelulusan tiba. Gua gagal! Perasaan gua waktu itu campur aduk, rasanya seperti kopi dicampur dengan susu kambing, dua butir kuning telur, madu, daun sirih, kemenyan, kulit manis bakar, dan sedikit upil berdiameter 2,5 cm. Gag karuan bro! Gua langsung menghadap ke Yang Maha Kuasa ruang kepala sekolah, mempertanyakan kenapa gua gag lulus seleksi. Bukannya sombong, tapi selama test tertulis gua merasa mampu menyelesaikan semua jawaban walaupun ada beberapa soal yang memang sulit untuk gua pecahkan. Gua meminta kepala sekolah untuk memperlihatkan lembar jawaban gua. Jika memang banyak jawaban yang salah berarti memang gua yang bodoh, tapi kepala sekolah menolak dengan alasan itu adalah rahasia sekolah. Rahasia apaan, fvck banget dah. And you know what, gua semakin tersulut emosi saat mengetahui teman satu les gua lulus padahal satu sekolahan tahu kalau doi itu IQ nya jongkok (walaupun setahun kemudian gua tahu kalau dia DO (drop out) karna gag kuat hahaha).

Gagal dipercobaan pertama gag membuat gua patah arang. Target gua selanjutnya adalah sebuah sekolah farmasi terkenal di kota berudara sejuk, Bukittinggi. Menjadi apoteker tidaklah buruk, that’s would be fun. Sama seperti sekolah sebelumnya, semua syarat dan test (fisik dan tertulis) gua lalui dengan lancar jaya tapi hasilnya tetap sama. Gua gagal untuk yang kedua kalinya, tapi kali ini bukan gua yang ngotot untuk mempertanyakan kenapa gua gag lulus. Mama gua langsung menyambangi kantor sekolah, tapi lagi-lagi pihak sekolah tidak mau memberikan lembar jawaban gua dengan alasan rahasia sekolah. Usut punya usut, gua diberitahu oleh salah satu senior di sekolah itu bahwa sepintar apapun kalau tidak memiliki orang dalam gag akan mungkin bisa masuk. Shit, seburuk inikah sistem pendidikan di Indonesia? Tapi gua sedikit lega, meskipun gagal tapi gua peringkat 20 besar nilai kelulusan. How do I know that? Senior itu yang member tahu, karna dialah yang memeriksa semua lembar jawaban. Kecewa, pastinya! Mungkin gua emang gag jodoh dengan sekolah ini. Gua mungkin jodohnya sama lo, hahaha…

Waktu tahun ajaran baru semakin mepet, sedangkan gua sudah ditolak di dua sekolah. Tidak ada pilihan lain lagi, sekolah formal biasa menjadi pilihan terakhir. Meskipun agak berkecil hati, tapi ini masih jauh lebih baik daripada orang-orang diluar sana. Banyak yang tidak bisa sekolah. Alhamdulillah, gua masih bisa sekolah :))

Horeeeeee…..tahun 2012 gua lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Manis pahitnya kehidupan putih abu-abu sudah gua rasakan. Banyak kenangan seru, sedih, tawa, dan canda terpatri dalam dada. Kelulusan identik dengan coret-coretan baju, tapi karna kepribadian gua yang agak sedikit berbeda (read, introvert) setelah pengumuman kelulusan gua langsung pulang. Oleh sebab itu, gua gag punya foto bersama teman-teman kelas gua yang penuh dengan warna warni dari cat semprot. It’s okay…
                Selanjutnya apa? Yup, lanjut ke perguruan tinggi. Jika teman-teman gua sibuk bimbel sana sini, gua malah sebulan penuh liburan di kota bertuah, Pekan Baru. Bukan tanpa alasan, karna enam bulan sebelum kelulusan gua sudah sibuk duluan. Mengurus semua berkas-berkas untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Swasta di kota pelajar, Yogyakarta. Menjadi seorang sarjana pertanian (SP) memang bukan cita-cita gua, tapi melihat prospek dijanjikan kedepannya baik makannya gua tertarik.

September 2012, kehidupan gua sebagai mahasiswa di kota gudeg dimulai. Semua berjalan baik dan menyenangkan. Mulai dari nilai-nilai dari setiap semester gua yang memuaskan, bertemu manusia-manusia dari Aceh sampai Papua, nuansa Jogja yang sangat nyesss di hati. That’s was so amazing, dude. Gua juga gag akan lupa saat gua terjangkit Demam Berdarah (DBD) pasca liburan semester tiga. Hahaha, rasanya waktu itu gua pengen cepet-cepet ke alam barzah. Sakitnya gag ketulungan.

Kesenangan gua berakhir, tahun 2014 adalah tahun terburuk dalam hidup gua. Nilai semester gua anjlok, semua nilai-nilai gua turun seterjal jurang di laut Mediterania. Orang tua kecewa, dan keputusan akhir adalah gua “dipulang paksa”. Gagal untuk yang ketiga kalinya. Apa yang terjadi setelah itu gag bisa gua ceritakan, sejauh yang gua ingat adalah rasa duka, malu, dan kecewa yang sangat teramat dalam. Catatan hitam terbanyak yang pernah gua tulis. Gua menarik diri dari peredaran. Diam adalah hal paling nyaman untuk gua lakukan saat itu (meskipun sampai sekarang gua masih nyaman dengan itu). Banyak tawaran dari orang-orang sekitar mulai dari pesantren, Pegawai Negeri Sipil (PNS), bank atau apalah itu. Gua menolak semuanya mentah-mentah. Saat itu dunia berasa hitam putih. Gag ada semangat sama sekali untuk hidup, bahkan untuk sekedar bernafas pun gua merasa malas. Kegagalan demi kegagalan terasa terus mentertawakan hidup gua. Gua down, berada dititik nadir terendah.

Awal tahun 2015, tawaran terakhir muncul dari abang tiri gua. Awalnya gua juga menolak karna menjadi seorang peluat bukanlah cita-cita gua. Sama sekali tidak pernah terlintas untuk bisa menjadi seorang seaman. Namun ketika melihat orang tua gua terutama Mama, gua kembali berpikir. Gua gag mungkin selamanya terus begini. Gua punya hidup yang harus gua jalani, gua juga punya adik yang menjadi tanggung jawab sampai mati. Gua harus bangkit! Masa lalu gua boleh kelam, tapi masih ada kemungkinan gua untuk mencerahkan masa depan. Tawaran tersebut gua terima, and here I’m now at Jakarta. Meskipun jalan gua untuk menuju kesuksesan masih lama, tapi gua optimis perjuangan gua kali ini gag akan sia-sia. Menyerah, Jangan Harap !!!

Rawamangun, Jakarta Timur



               
***