Sabtu, 21 Maret 2015

Quality Time at Puncak Lawang



Udah lama sebenernya gua punya rencana untuk ngajak adik gua buat jalan². Gag harus ke tempat yang wah, tapi yang pasti bisa bikin perasaan senang dan Alhamdulillah itu baru bisa terealisasikan hari ini. Bertepatan dengan hari libur Nyepi, gua raun-raun berdua sama adik gua ke Puncak Lawang. Tempatnya yang gag terlalu jauh, dan pastinya sangat menyenangkan benar-benar menggoda gua buat kesana. Apalagi ini adalah pertama kalinya gua ke Puncak Lawang.

Jam tujuh pagi, dengan tunggangan Motor Honda Beat putih gua melesat bareng adik gua dari Lubuk Basung menuju Puncak Lawang. Udara pagi pedesaan yang segar serta hangatnya cahaya mentari menemani perjalanan kami. Danau Maninjau adalah view pertama yang kami nikmati. Spectacular….itulah yang terngiang di kepala saat melihat birunya air danau Maninjau yang memantulkan cahaya kuning matahari.

Kelok 44 (ampek puluah ampek) kami lewati dengan mulus. Meski hari libur, tapi karna masih pagi jadi volume kendaraan yang melintas tidak begitu banyak. Sebelum ke Puncak Lawang, kami sempat singgah dulu di Ambun Tanai. View disini juga indah, dan lo pasti tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Yup,,, foto-foto… Keluarkan narsis lo, dek! Hahahahaha….

Ambun Tanai

Ambun Tanai

Ambun Tanai

Ambun Tanai
Sekitar satu jam perjalanan, kami pun sampai di tujuan utama. Puncak Lawang !! Alhamdulillah, cuaca pagi itu benar-benar cerah. Udara yang sangat dingin dan sejuk memenuhi paru-paru ini. Karna masih pagi, pengunjung yang datang belum begitu banyak jadi gua dan adik gua bebas untuk memilih spot-spot mana yang kami kehendaki buat berfoto-foto. Hahaha….


Puncak Lawang
Puncak Lawang
Puncak Lawang
Puas foto-foto, perut gua mulai bersuara. Bekal yang disiapkan Mama langsung gua sikat habis bareng adik gua. Makan ditepi jurang sambil liat birunya air Danau Maninjau dari atas bener-bener meyegarkan mata. Keren dah pokoknya. Gua jarang punya waktu berkualitas berdua dengan adik gua, dan ini adalah kesempatan yang gag mau gua sia-siain. Seenggagnya sebelum gua pergi diklat awal April besok ke Jakarta, gua udah bikin adik gua seneng :))





Maninjau, Sumatera Barat


***

Jumat, 13 Maret 2015

The Power of Hay



The power of hay? Emang apa sih kekuatan dari satu kata yang cuman terdiri dari tiga huruf ini? Mungkin itulah yang terbesit di kepala lo saat membaca judul dari tulisan ini. Jujur, gua pribadi sebenarnya juga gag ada yang spesial dari kata hai ini. Hai cuman kata sapaan paling sederhana diantara kata sapaan yang lain seperti "apa kabar".

Pernah gag lo ngebayangin darimana suatu pembicaraan bisa terjadi dengan begitu sangat lama? Yup, dialah kata hai yang memulai segalanya. Kata hai inilah yang bisa membuat kita lupa akan waktu karna pembicaraan yang terjadi begitu sangat panjang. Kata hai jualah yang mampu membuat manusia yang awalnya tidak saling kenal menjadi akrab. Membuat para tuna asmara menjadi kusut setelah mendapat sapaan hai dari mantan.

Hai adalah kata sederhana yang memiliki banyak makna. Hai bisa membuat perasaan seseorang menjadi berpohon-pohon (karna berbunga-bunga sudah terlalu mainstream) tatkala disapa oleh sang pujaan hati, tapi karna hai jua lah yang juga bisa membuat proses move on seseorang yang hampir 99,99% menjadi gagal karna sapaan hai dari mantan (rasain lo).

Hai juga bisa menjadi kata yang cukup mematikan bila digunakan mantan untuk membuat perasaan menjadi uring-uringan. Semua rasa terbawa akibat satu kata ini. Dalam kasus yang lebih berat, kata hai bisa membuat seseorang yang sedang dalam proses move on menderita ilusi kenangan akibat terbuai dengan kata hai.

Namun bagaimana jika sang mantan sudah terlanjur mengatakan hai? Atau bagaimana jika lo sendiri yang keceplosan mengatakan hai saat gag sengaja berpapasan di depan toilet? Well, pilihan ada ditangan kalian. Mengatakan hai duluan tidak akan membuat derajat lo menjadi hina, tetapi jangan mentang² lo disapa duluan terus lo merasa bangga dan besar kepala duluan. Terkadang orang yang mengatakan hai duluan adalah orang yang ingin bernostalgia tanpa mengulang kembali kejadian yang pernah terjadi. Cukup jadikan yang manis tetap menjadi manis, dan lupakan pahit. Kalau masih pahit, gua saranin lo buat nambahin gula.

So, say hay lah pada semua orang, agar tercipta pembicaraan yang seru dan mengenang. Salam mata blogger :))


Lubuk Basung, Agam



***