Kamis, 09 Juli 2015

Ketika Mama Sakit



Kalau tagline dari Avatar adalah “semua berubah saat Negara Api menyerang”, cerita gua kali ini taglinenya adalah “semua berubah saat DBD menyerang” dan kali ini yang diserang adalah Mama gua sendiri. Kisahnya begini…

Kamis, 2 Juli 2015
Sejauh yang gua ingat, hari itu suasana rumah masih seperti biasanya. Masih santai berleha-leha karna siang hari begitu terik. Rasa haus begitu terasa karna puasa. Malam harinya setelah sholat Isya, Mama langsung tidur. Tumben, pikir gua. Biasanya beliau santai-santai dulu sambil nonton tv.

Jum’at, 3 Juli 2015
Setelah rapi, bersih, dan wangi gua siap-siap hendak pergi ke Masjid menunaikan Sholat Jum’at berjamaah. Celingak celinguk mencari keberadaan Mama karna gua hendak pamitan mau pergi. Loh, siang hari yang begitu panas mama malah berselimut di dalam kamar. “Mama kenapa?”, tanya gua. Gua tempelkan tangan gua ke kening beliau. Terasa sangat panas, ini pasti demam. Waktu itu gua menduga cuman demam biasa, jadi gua cuman memberikan obat parasetamol saja. Berharap demam beliau segera sembuh.

Sabtu, 4 Juli 2015
Keadaan mama gua kian bertambah buruk. Pagi itu mama langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat. Gua menduga ini bukan bintang demam biasa. Pasti DBD dan ternyata setelah diperiksa petugas paramedis memang positif DBD. Gua langsung balik pulang kerumah, menyiapkan semua kebutuhan selama di Puskesmas nanti. Mulai dari bantal, selimut, pakaian ganti lengkap, serta tiga botol air mineral besar yang gua beli di dekat rumah. DBD kan harus minum banyak air putih. Hari pertama dirawat, suhu tubuh mama naik turun secara drastis. Terkadang sangat panas, terkadang mengigil kedinginan seperti berada di kutub. Benar-benar unpredictable, ditambah lagi dengan mual dan mencret hebat. Puskesmas memang tidak selengkap Rumah Sakit, jadi gua harus bolak balik ke laboratorium untuk memberikan sampel darah dan rasanya hari itu lelah luar biasa. Ingin rasanya membatalkan puasa karna rasa haus yang ‘tak tertahankan, tapi Alhamdulillah masih kuat sampe Maghrib (hehehe…) Mama gua itu tipe orang yang sangat rewel kalau sedang sakit, bukannya gua gag tahu gimana rasanya kena DBD (karna waktu di Jogja dulu gua juga pernah kena DBD) tapi mama sangat susah disuruh untuk minum air putih. Kalaupun dipaksa, pasti muntah lagi. Hasil lab pun memberi gambaran serupa, trombosit mama turun sampe 126.000 dengan suhu 39,50C sangat membuat gua frustasi.

Minggu, 5 Juli 2015
Mama terlihat lebih baik daripada kemarin, bahkan beliau sudah mulai ada nafsu makan. Gag rewel lagi kalau gua suruh banyak minum, makan buah, dan minum obat. Hanya saja itu cuman bertahan beberapa jam. Panas tinggi kembali silih berganti dengan rasa dingin yang luar biasa. Ini bahkan berlanjut sampai malam. Gua gag bisa tidur karna harus memantau keadaan mama. Menemani ke kamar mandi, memegangkan gelas agar beliau bisa minum, memijit, atau sekedar mengelap keringat. Ngantuk banget, cuman gua tahan karna dulu gua juga dijagain full 24 jam hehehe…. Berbagai macam obat juga sudah gua berikan, mulai dari jus jambu biji, pocari sweat, sari buah kurma, air rebusan beras merah yang langsung gua pesan dari Padang bahkan ramuan herbal ANGKAK pun juga gag luput gua kasih. Namun tetap saja, apa yang sudah masuk ke dalam perut pasti dimuntahkan kembali.

Senin, 6 Juli 2015
Hasil lab di hari kedua dirawat menunjukan hasil yang cukup memuaskan, trombosit mama yang dari 126.000 naik menjadi 133.000. Meskipun begitu, rasa nyeri di ulu hati masih tetap ada. Muntah-muntah dan mencret gag pernah berhenti. Semakin parah saat malam hari, sedetikpun mama gag luput dari pantauan gua. Panas tinggi dan rasa dingin yang mengigil datang silih berganti kaya kenangan mantan.

Selasa, 7 Juli 2015
Yiiipppiiiiii, suhu tubuh mama sudah normal. Dari pagi sampai malam tidak ada perubahan drastis. Nafsu makan mama sudah kembali, bahkan beliau sudah bisa jalan sampai ke ruang tunggu di lorong Puskemas. Hasil lab di hari ketiga pun menunjukkan irama serupa. Trombosit mama sudah sampai 140.000 dan terus membaik. “Besok kita bisa pulang nih”, kata gua :))

Rabu, 8 Juli 2015
Ternyata kami cuman di PHPin. Mama kembali drop, namun bukan karna suhu tubuh yang tinggi, muntah, atau mencret lagi tapi karna sakit kepala yang luar biasa. Para paramedis yang berjaga dan dokter juga terheran-heran. Normalnya pasien DBD tidak mempunyai gejala seperti ini. Hari ini batal pulang mengingat kondisi mama yang tidak memungkinkan. Dari pagi, sakit kepala mama semakin bertambah parah, dan ini berlangsung sampai malam. Gua juga harus bolak-balik ke Rumah Sakit untuk membeli obat karna obat-obatan di Puskesmas tidak begitu lengkap.

Kamis, 9 Juli 2015
Sebenarnya fase kritis dari penyakit DBD mama sudah terlewati dan mama dinyatakan sembuh, namun gara-gara “penyakit dadakan” sakit kepala ini dokter enggan untuk mengizinkan mama untuk pulang. Tapi mama tetap bersikeras ingin pulang. Saat tulisan ini dibuat, mama gua sedang beristirahat dikamar. Sakit kepalanya memang tidak sehebat hari kemarin, cuman sepertinya suasana rumah lebih membuat nyaman dibandingkan dengan di Puskesmas. Obat-obatan yang diberikan oleh dokter nampaknya juga sudah mulai bereaksi dan Alhamdulillah sekarang kondisi mama gua sudah jauh lebih baik. Mungkin memang harus banyak istirahat, karna asli kena DBD itu bikin badan lemah selemah-lemahnya.

catatan : mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa mama gua dirawat di Puskesmas bukannya di Rumah Sakit. Gua dan keluarga punya alasan tersendiri kenapa memilih di rawat di Puskesmas. Ini sebenarnya simple namun sangat penting terutama bagi pasien. Keramahan. Yup, keramahan. Bukannya mau menjelek-jelekan RSUD gua sendiri, hanya saja para paramedis di RSUD disini terkenal dengan keramahannya yang rendah. Berbeda dengan di Puskesmas tempat mama gua dirawat, paramedis disini ramah dan ucapannya sopan. Namun diluar dari itu, sehat itu mahal memang terbukti adanya. So, tetap jaga kesehatan ya :))
Lubuk Basung, Agam

***

Jumat, 01 Mei 2015

Menyerah? Jangan Harap !!!



Beuh, debu-debu di blog ini sudah menebal seperti karat di anjungan kapal saja. Sorry to say guys, gua baru sempat nulis lagi karna frekuensi  mood gua akhir-akhir ini sedang pasang surut (read, labil). O yeah, this is May and you should already know that today is May Day. 1 Mei adalah harinya para buruh dan sekarang di Bundaran HI dan sekitar Sudirman sana semuanya lagi pada demo. Manusia tumpah ruah di jalanan, but postingan kali ini gag akan ada sangkut pautnya dengan buruh hehehe…
By the way, anyway and the busway (apa sih gaje lo) lo pernah gag ngerasain kegagalan? Gua rasa pasti pernah lah ya. Entah itu kegagalan dalam pertemanan, pendidikan, maupun percintaan. OK gua akui kalau poin yang terakhir itu emang nyesek banget di dada, trust me I know how that’s feeling. Tapi bukan itu yang mau gua bahas, kali ini gua mau bahas tentang kegagalan gua dalam pendidikan.

Flashback ke tahun 2009. Gua ingat banget tahun itu, tahun ketika gua lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan rasa percaya diri gua ngelamar ke sebuah sekolah paling favorite di Provinsi gua. Sekolah yang berada di tepian Danau Maninjau nan indah. Sekolah yang memiliki asrama, seragam seperti taruna dan kurikulum yang sangat baik. Beuhh, gua pasti keren kalau gua bisa sekolah disini, seperti itulah pikiran gua kala itu. Semua syarat dan test (fisik dan tertulis) gua lalui dengan lancar, dan hari pengumuman kelulusan tiba. Gua gagal! Perasaan gua waktu itu campur aduk, rasanya seperti kopi dicampur dengan susu kambing, dua butir kuning telur, madu, daun sirih, kemenyan, kulit manis bakar, dan sedikit upil berdiameter 2,5 cm. Gag karuan bro! Gua langsung menghadap ke Yang Maha Kuasa ruang kepala sekolah, mempertanyakan kenapa gua gag lulus seleksi. Bukannya sombong, tapi selama test tertulis gua merasa mampu menyelesaikan semua jawaban walaupun ada beberapa soal yang memang sulit untuk gua pecahkan. Gua meminta kepala sekolah untuk memperlihatkan lembar jawaban gua. Jika memang banyak jawaban yang salah berarti memang gua yang bodoh, tapi kepala sekolah menolak dengan alasan itu adalah rahasia sekolah. Rahasia apaan, fvck banget dah. And you know what, gua semakin tersulut emosi saat mengetahui teman satu les gua lulus padahal satu sekolahan tahu kalau doi itu IQ nya jongkok (walaupun setahun kemudian gua tahu kalau dia DO (drop out) karna gag kuat hahaha).

Gagal dipercobaan pertama gag membuat gua patah arang. Target gua selanjutnya adalah sebuah sekolah farmasi terkenal di kota berudara sejuk, Bukittinggi. Menjadi apoteker tidaklah buruk, that’s would be fun. Sama seperti sekolah sebelumnya, semua syarat dan test (fisik dan tertulis) gua lalui dengan lancar jaya tapi hasilnya tetap sama. Gua gagal untuk yang kedua kalinya, tapi kali ini bukan gua yang ngotot untuk mempertanyakan kenapa gua gag lulus. Mama gua langsung menyambangi kantor sekolah, tapi lagi-lagi pihak sekolah tidak mau memberikan lembar jawaban gua dengan alasan rahasia sekolah. Usut punya usut, gua diberitahu oleh salah satu senior di sekolah itu bahwa sepintar apapun kalau tidak memiliki orang dalam gag akan mungkin bisa masuk. Shit, seburuk inikah sistem pendidikan di Indonesia? Tapi gua sedikit lega, meskipun gagal tapi gua peringkat 20 besar nilai kelulusan. How do I know that? Senior itu yang member tahu, karna dialah yang memeriksa semua lembar jawaban. Kecewa, pastinya! Mungkin gua emang gag jodoh dengan sekolah ini. Gua mungkin jodohnya sama lo, hahaha…

Waktu tahun ajaran baru semakin mepet, sedangkan gua sudah ditolak di dua sekolah. Tidak ada pilihan lain lagi, sekolah formal biasa menjadi pilihan terakhir. Meskipun agak berkecil hati, tapi ini masih jauh lebih baik daripada orang-orang diluar sana. Banyak yang tidak bisa sekolah. Alhamdulillah, gua masih bisa sekolah :))

Horeeeeee…..tahun 2012 gua lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Manis pahitnya kehidupan putih abu-abu sudah gua rasakan. Banyak kenangan seru, sedih, tawa, dan canda terpatri dalam dada. Kelulusan identik dengan coret-coretan baju, tapi karna kepribadian gua yang agak sedikit berbeda (read, introvert) setelah pengumuman kelulusan gua langsung pulang. Oleh sebab itu, gua gag punya foto bersama teman-teman kelas gua yang penuh dengan warna warni dari cat semprot. It’s okay…
                Selanjutnya apa? Yup, lanjut ke perguruan tinggi. Jika teman-teman gua sibuk bimbel sana sini, gua malah sebulan penuh liburan di kota bertuah, Pekan Baru. Bukan tanpa alasan, karna enam bulan sebelum kelulusan gua sudah sibuk duluan. Mengurus semua berkas-berkas untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Swasta di kota pelajar, Yogyakarta. Menjadi seorang sarjana pertanian (SP) memang bukan cita-cita gua, tapi melihat prospek dijanjikan kedepannya baik makannya gua tertarik.

September 2012, kehidupan gua sebagai mahasiswa di kota gudeg dimulai. Semua berjalan baik dan menyenangkan. Mulai dari nilai-nilai dari setiap semester gua yang memuaskan, bertemu manusia-manusia dari Aceh sampai Papua, nuansa Jogja yang sangat nyesss di hati. That’s was so amazing, dude. Gua juga gag akan lupa saat gua terjangkit Demam Berdarah (DBD) pasca liburan semester tiga. Hahaha, rasanya waktu itu gua pengen cepet-cepet ke alam barzah. Sakitnya gag ketulungan.

Kesenangan gua berakhir, tahun 2014 adalah tahun terburuk dalam hidup gua. Nilai semester gua anjlok, semua nilai-nilai gua turun seterjal jurang di laut Mediterania. Orang tua kecewa, dan keputusan akhir adalah gua “dipulang paksa”. Gagal untuk yang ketiga kalinya. Apa yang terjadi setelah itu gag bisa gua ceritakan, sejauh yang gua ingat adalah rasa duka, malu, dan kecewa yang sangat teramat dalam. Catatan hitam terbanyak yang pernah gua tulis. Gua menarik diri dari peredaran. Diam adalah hal paling nyaman untuk gua lakukan saat itu (meskipun sampai sekarang gua masih nyaman dengan itu). Banyak tawaran dari orang-orang sekitar mulai dari pesantren, Pegawai Negeri Sipil (PNS), bank atau apalah itu. Gua menolak semuanya mentah-mentah. Saat itu dunia berasa hitam putih. Gag ada semangat sama sekali untuk hidup, bahkan untuk sekedar bernafas pun gua merasa malas. Kegagalan demi kegagalan terasa terus mentertawakan hidup gua. Gua down, berada dititik nadir terendah.

Awal tahun 2015, tawaran terakhir muncul dari abang tiri gua. Awalnya gua juga menolak karna menjadi seorang peluat bukanlah cita-cita gua. Sama sekali tidak pernah terlintas untuk bisa menjadi seorang seaman. Namun ketika melihat orang tua gua terutama Mama, gua kembali berpikir. Gua gag mungkin selamanya terus begini. Gua punya hidup yang harus gua jalani, gua juga punya adik yang menjadi tanggung jawab sampai mati. Gua harus bangkit! Masa lalu gua boleh kelam, tapi masih ada kemungkinan gua untuk mencerahkan masa depan. Tawaran tersebut gua terima, and here I’m now at Jakarta. Meskipun jalan gua untuk menuju kesuksesan masih lama, tapi gua optimis perjuangan gua kali ini gag akan sia-sia. Menyerah, Jangan Harap !!!

Rawamangun, Jakarta Timur



               
*** 

Minggu, 19 April 2015

Teruntuk Istri Masa Depanku



لسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَات  Salam rinduku untukmu, Istri Masa Depanku.

Entahlah, laki-laki itu paling sulit untuk mengatakan cinta secara verbal. Oleh sebab itu aku beranikan diri untuk menulis surat ini dengan harapan agar kata yang tak bisa diucapkan oleh bibir ini bisa tersampaikan. Hanya untukmu, untukmu seorang.

Kau tahu, orang bilang mempercayai sesuatu tanpa melihat langsung dengan mata kepala sendiri adalah bodoh. Tetapi bagiku, mempercayai bahwa aku jatuh cinta padamu adalah suatu hal yang pasti. Pasti ada, sebagaimana aku meyakini bahwa Allah itu memang ada dan Nabi Muhammad itu memang nyata adanya. Saat ini, aku memang buta akan siapa dirimu. Bagaimana dirimu, dimana kau tinggal, apa yang sedang kau lakukan saat ini bahkan aku tidak tahu apakah kau juga sedang memikirkanku sebagaimana aku memikirkanmu saat ini?

Istri masa depanku, dengarkanlah. Aku selalu menyematkan namamu didalam bait do’a-do’aku. Memohon pada Yang Maha Kuasa agar aku bisa menikahimu suatu hari kelak. Sajadah sebagai tempat aku memohon meletakkan kepalaku dalam posisi yang paling rendah, memohon agar kau bisa menjadi teman hidupku. Walau demikian, aku tidak ingin tergesa-gesa untuk bisa menemuimu. Aku pinta pada Allah untuk semakin mematangkan pikiranku, agar saat kita bertemu kelak kau akan merasa bahwa aku memang calon imam yang pantas untuk dirimu.

Wahai istri masa depanku, saat ini aku tengah terengah-rengah mendaki untuk bisa meraih mimpi-mimpiku. Oleh sebab itu, kumohon kau untuk bersabar dan tetap mendoakanku dari jauh agar saat kita bertemu nanti kau tak kan perlu menderita.

Kau adalah orang yang akan paling tahu tentang luar dan dalamnya diriku. Aku berharap kau akan selalu menyemangati diriku saat kelelahan. Kau akan menuruti segala kata-kataku dan menjadi istri sholehah yang patuh, tapi tenang saja aku tidak akan mengekang hidupmu setelah menjadi istriku. Aku tidak sejahat itu sayang. Layaknya berhijab, kau akan merasa terbuka saat tertutup. Kebebasan adalah hak dirimu selama masih layak sebagai seorang istri. Kau akan tetap terus menyiram cinta kita setiap hari sehingga pohon tersebut akan tumbuh semakin besar dan menancap dalam dihati kita masing-masing.

Saat kita pergi ke suatu tempat. Akulah yang akan menanggung semua bebanmu dan sebagai istri yang berbakti kau akan selalu siap untuk mengusir semua rasa lelahku. Jika hari ini aku hanya berfotokan seorang diri, percayalah suatu hari nanti akan ada foto dimana tanganku memagang kamera dan kau memeluk erat pinggangku dengan senyum. Senyum kita mengembang memancarkan kebahagiaan, istriku.

Aku sadar, pernikahan kita tidak akan selamanya mulus. Tetapi layaknya nahkhoda yang mengendalikan sebuah kapal, aku akan selalu butuh dirimu untuk memperbaiki semuanya. Tanpa dirimu, aku akan gagal membangun pernikahan ini. Jika suatu saat nanti, aku tidak adil dan bijak dalam memimpin aku mohon kau untuk tidak segan-segan menegurku. Aku hanya manusia biasa dan juga bisa salah. Apapun yang kau katakan padaku, pastilah untuk kebahagiaan kita berdua.

 Wahai istri masa depanku, melalui pernikahan ini aku tidak hanya ingin kau menjadi istriku di dunia yang fana ini saja. Aku juga ingin kau untuk bisa menjadi bidadari surgaku kelak. Beruntunglah diriku bisa memiliki dirimu tidak hanya sekali, tapi untuk selamanya di surga.

Tunggu aku istri masa depanku, tunggu suamimu ini. Aku masih dan akan tetap berjuang. Sematkanlah aku didalam do’a rindumu. Aku akan segera menjemput dan menghalalkanmu. Pastikan dirimu siap saat aku tiba ya Istriku. Bersabarlah, percayakan semua pada Allah.


Dari aku yang mencintaimu,


Suami Masa Depanmu.

***

Sabtu, 21 Maret 2015

Quality Time at Puncak Lawang



Udah lama sebenernya gua punya rencana untuk ngajak adik gua buat jalan². Gag harus ke tempat yang wah, tapi yang pasti bisa bikin perasaan senang dan Alhamdulillah itu baru bisa terealisasikan hari ini. Bertepatan dengan hari libur Nyepi, gua raun-raun berdua sama adik gua ke Puncak Lawang. Tempatnya yang gag terlalu jauh, dan pastinya sangat menyenangkan benar-benar menggoda gua buat kesana. Apalagi ini adalah pertama kalinya gua ke Puncak Lawang.

Jam tujuh pagi, dengan tunggangan Motor Honda Beat putih gua melesat bareng adik gua dari Lubuk Basung menuju Puncak Lawang. Udara pagi pedesaan yang segar serta hangatnya cahaya mentari menemani perjalanan kami. Danau Maninjau adalah view pertama yang kami nikmati. Spectacular….itulah yang terngiang di kepala saat melihat birunya air danau Maninjau yang memantulkan cahaya kuning matahari.

Kelok 44 (ampek puluah ampek) kami lewati dengan mulus. Meski hari libur, tapi karna masih pagi jadi volume kendaraan yang melintas tidak begitu banyak. Sebelum ke Puncak Lawang, kami sempat singgah dulu di Ambun Tanai. View disini juga indah, dan lo pasti tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Yup,,, foto-foto… Keluarkan narsis lo, dek! Hahahahaha….

Ambun Tanai

Ambun Tanai

Ambun Tanai

Ambun Tanai
Sekitar satu jam perjalanan, kami pun sampai di tujuan utama. Puncak Lawang !! Alhamdulillah, cuaca pagi itu benar-benar cerah. Udara yang sangat dingin dan sejuk memenuhi paru-paru ini. Karna masih pagi, pengunjung yang datang belum begitu banyak jadi gua dan adik gua bebas untuk memilih spot-spot mana yang kami kehendaki buat berfoto-foto. Hahaha….


Puncak Lawang
Puncak Lawang
Puncak Lawang
Puas foto-foto, perut gua mulai bersuara. Bekal yang disiapkan Mama langsung gua sikat habis bareng adik gua. Makan ditepi jurang sambil liat birunya air Danau Maninjau dari atas bener-bener meyegarkan mata. Keren dah pokoknya. Gua jarang punya waktu berkualitas berdua dengan adik gua, dan ini adalah kesempatan yang gag mau gua sia-siain. Seenggagnya sebelum gua pergi diklat awal April besok ke Jakarta, gua udah bikin adik gua seneng :))





Maninjau, Sumatera Barat


***

Jumat, 13 Maret 2015

The Power of Hay



The power of hay? Emang apa sih kekuatan dari satu kata yang cuman terdiri dari tiga huruf ini? Mungkin itulah yang terbesit di kepala lo saat membaca judul dari tulisan ini. Jujur, gua pribadi sebenarnya juga gag ada yang spesial dari kata hai ini. Hai cuman kata sapaan paling sederhana diantara kata sapaan yang lain seperti "apa kabar".

Pernah gag lo ngebayangin darimana suatu pembicaraan bisa terjadi dengan begitu sangat lama? Yup, dialah kata hai yang memulai segalanya. Kata hai inilah yang bisa membuat kita lupa akan waktu karna pembicaraan yang terjadi begitu sangat panjang. Kata hai jualah yang mampu membuat manusia yang awalnya tidak saling kenal menjadi akrab. Membuat para tuna asmara menjadi kusut setelah mendapat sapaan hai dari mantan.

Hai adalah kata sederhana yang memiliki banyak makna. Hai bisa membuat perasaan seseorang menjadi berpohon-pohon (karna berbunga-bunga sudah terlalu mainstream) tatkala disapa oleh sang pujaan hati, tapi karna hai jua lah yang juga bisa membuat proses move on seseorang yang hampir 99,99% menjadi gagal karna sapaan hai dari mantan (rasain lo).

Hai juga bisa menjadi kata yang cukup mematikan bila digunakan mantan untuk membuat perasaan menjadi uring-uringan. Semua rasa terbawa akibat satu kata ini. Dalam kasus yang lebih berat, kata hai bisa membuat seseorang yang sedang dalam proses move on menderita ilusi kenangan akibat terbuai dengan kata hai.

Namun bagaimana jika sang mantan sudah terlanjur mengatakan hai? Atau bagaimana jika lo sendiri yang keceplosan mengatakan hai saat gag sengaja berpapasan di depan toilet? Well, pilihan ada ditangan kalian. Mengatakan hai duluan tidak akan membuat derajat lo menjadi hina, tetapi jangan mentang² lo disapa duluan terus lo merasa bangga dan besar kepala duluan. Terkadang orang yang mengatakan hai duluan adalah orang yang ingin bernostalgia tanpa mengulang kembali kejadian yang pernah terjadi. Cukup jadikan yang manis tetap menjadi manis, dan lupakan pahit. Kalau masih pahit, gua saranin lo buat nambahin gula.

So, say hay lah pada semua orang, agar tercipta pembicaraan yang seru dan mengenang. Salam mata blogger :))


Lubuk Basung, Agam



***