Tampilkan postingan dengan label Life Corner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life Corner. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2015

Selamat Datang 21



Kayaknya kiamat memang sudah dekat deh, perasaan baru kemarin umur gua 20 tapi sekarang sudah naik satu peringkat menjadi 21. Satu tahun terasa berlalu begitu cepat, sudah 21 tahun kuota hidup yang gua pakai, sudah jutaan oxygen dibumi yang gua habisin selama 21 tahun ini (untung oxygennya gratis, kalau bayar bisa bangkrut gua), entah tinggal berapa sisa paket hidup gua yang masih tersisa. Only God knows.

Ngomongin tentang ulang tahun, well sebenernya gua tahu dan paham kalau dalam Islam itu tidak ada yang namanya perayaan atau peringatan tentang ulang tahun. Tapi, gua menulis ini bukan bagian dari perayaan ulang tahun gua, hanya saja gua menulis artikel ini sebagai pengingat gua bahwa jatah hidup gua sangat nyata sudah berkurang.

Ulang tahun itu identik dengan perayaan, kue, dan manusia-manusia para tamu undangan baik itu keluarga, teman, sahabat, gebetan, pacar, mantan, atau yang lebih extremnya lagi mungkin selingkuhan. Tapi, itu semua tidak berlaku buat gua. Sejauh yang gua ingat, gua hanya pernah sekali merayakan ulang tahun. Yup, sekali doang mamen! Waktu itu gua ingat betul, gua baru pulang sekolah. Masih berseragam putih merah, gua dapat surprise dari Mama gua tercinta. Baru saja gua melangkahkan masuk ke dalam rumah, Mama nongol dari dapur dengan dua tangan memegang sebuah kue bulat berwarna putih dengan hiasan bunga-bunga warna warni diatasnya. Waktu itu, kita berdua makan kue dengan sangat santai dan bahagia. Moment dimana ulang tahun gua yang 10 hanya ada gua dan Mama. Oh God, I really fucking miss that moment!

Itu perayaan pertama dan sampai saat ini belum pernah ada perayaan seperti itu lagi. Sedih kah gua? Irikah gua dengan teman-teman yang selalu merayakan ulang tahun mereka setiap tahunnya? Well, jawaban gua adalah tidak! Mungkin karna sudah biasa tidak dirayakan gua malah jadi terbiasa, malah aneh rasanya menerima ucapan bejibun selamat ulang tahun dari orang-orang, it's annoying.

Tapi gua selalu merasa kalau hari lahir gua adalah hari baik, oleh sebab itu ucapan terima kasih di hari baik akan menjadi hal baik pula buat gua. First of all, gua pengen berterima kasih buat creator terbaik yang pernah ada, Allah yang udah dengan baiknya ngasih udara, anggota tubuh, dan seluruhnya secara free buat gua. Gag kebayang deh, seandainya Allah minta charge atas apa yang udah Dia kasih, sampe kiamat pun gag akan bisa gua lunasi.

Second, sebenernya gua mau bilang makasih buat Mama dan Papa karna merekalah gua ada, terima kasih telah menjadikan gua seorang Muslim, melahirkan gua dengan darah keturunan asli Minangkabau, I'm so proud of it, tapi lebih berterima kasih lagi kepada Allah lagi karna telah mempertemukan mereka berdua puluhan tahun lalu, sampai akhirnya mereka memiliki anak laki-laki yang rada-rada kaya` gua hahahaha. Semoga, mereka gag shock punya anak macam gua. I Love amak den, I Love apak den!

Thrid, terima kasih buat kakak-kakak gua, abang-abang gua, dan adik-adik gua yang udah rela berbagi kasih dengan Mama dan Papa, yang udah rela gua repotin, yang udah rela gua bikin cemas dan susah. Pokoknya kalian semua itu peeeetttttjjjjjaaahhh banget deh!

Fourth, gag lupa terima kasih gua buat Bapak & Ibu guru gua dari TK sampai SMA yang udah ngajarin manusia bego yang satu ini jadi aga` sedikit lebih pintar hahahaha, yang udah marah-marah akibat sifat bandel gua, yang udah hampir heart attack akibat hasil jawaban ulangan matematika gua  yang selalu berupa makanan ondel-ondel alis nol besar. O iya, meski kuliah berhenti ditengah jalan, buat dosen-dosen gua di ******** dulu makasih juga udah mau ngajarin mahasiswa badung yang satu ini. Kalian semua, asli pahlawan tanpa tanda jasa!

Crap, udah kaya` pidato aja ya gua barusan, puanjang banget! Biarin!! Ini hari ulang tahun gua, gua bebas mau ngapain hahahaha

Jujur, bukan hanya terima kasih yang mau gua utarakan tetapi juga permintaan maaf. Ucapan maaf untuk semua manusia-manusia yang pernah ada disekitar gua, yang mengenal gua, yang pernah gua sakitin, gua mohon maaf banget. Terkadang apa yang gua lakukan itu, bukan kemauan gua tapi keadaan yang memaksa. Sifat childish gua kadang atau bahkan sering membuat kalian jengkel, gua mohon maaf. Menjadi dewasa itu gag gampang kayak ngelepas kolor. Susah! Jam terbang gua sebagai manusia baik masih sedikit, jadi harap dimaklumi kalau gua agak bejat-bejat gimana gitu.

Hmmm...apalagi ya? Ucapan terima kasih sudah, permintaan maaf juga sudah. Eittsss, hampir lupa. Harapan dan doa. Gua cuman berharap apa yang gua targetkan untuk sepuluh tahun ke depan bisa terlaksana dengan sukses. Bisa ini bisa itu, dapat ini dapat itu. Buanyak deh. Berkahi Yaa Rabb! Sebagai penutup, SELAMAT MENUA, AKHSAN!



Grogol Petamburan, DKI Jakarta


***

Selasa, 04 Agustus 2015

Demi Sebuah Passport



Motto sesat yang mengatakan "Selagi masih bisa dipersulit, kenapa musti dipermudah?" ternyata sangat menguji kesabaran, ini gua alami ketika gua melakukan proses pembuatan paspor dan ini ceritanya....

Senin, 27 Juli 2015
Jam enam pagi, saat udara masih terasa sangat dingin membekukan persendian gua sudah bertolak dari Lubuk Basung menuju Bukittinggi. Hari ini gua mau membuat paspor sebagai persiapan jikalau gua mendapatkan line kapal keluar negeri nanti. Off course, semua berkas kelengkapan sudah gua persiapkan sedari malam....
Selang dua jam kemudian, gua tiba di Kantor Keimigrasian Kelas II Kota Bukittingi di Koto Hilalang. Suasana pagi yang cerah dengan latar belakang gunung Marapi agak meringankan pegal dipunggung. Setelah memarkirkan motor gua lantas menghampiri seorang petugas satpam, menanyakan dimana loket untuk pembuatan paspor baru. Namun jawaban yang gua terima sangat pahit dipagi yang indah ini. Dalam sehari kantor keimigrasian hanya melayani 40 orang dan nomor antrian sudah habis sejak jam enam pagi. Lemas rasanya mendengarkan penjelasan dari satpam tersebut.
Tidak mau kecolongan untuk yang kedua kalinya, gua berkeinginan untuk menginap saja di Bukittinggi agar besoknya gua bisa kebagian nomor antrian. Namun setelah gua pikir-pikir, daripada keluar uang hanya untuk satu malam lebih baik gua bermalam saja di rumah bako gua di Simarasok yang juga gag terlalu jauh dari kantor ini. Which is bisa untuk menghemat pengeluaran gua lah, hahaha.....

Selasa, 28 Juli 2015
Selepas sholat Shubuh, sekitar jam setengah enam pagi gua langsung tancap gas dari Simarasok ke Koto Hilalang. Pokoknya hari ini gua harus dapat nomor antrian. Suasana memang masih pagi buta, namun parkiran sudah penuh dengan motor dan mobil orang-orang yang memiliki urusan di kantor keiimigrasian. Awalnya gua dengan pede berpikir kalau gua bakal dapat nomor antrian top 10, eh tahu-tahu saat satpam membirakan berkas dan nomor antrian gua malah kebagian nomor 27. Shittt....
Disini nih mulai proses yang gua rasa agak membuat kesal. Saat nomor antrian gua dipanggil, gua keluarkan semua syarat-syarat pembuatan paspor baru mulai dari FC KTP, FC KK, dan FC Akta Kelahiran plus berkas-berkas aslinya. Dicek satu persatu sama petugasnya. KTP aman, Akta juga aman, cuman bermasalah di KK. Ada bekas tinta perbaikan di KK gua dan pihak keimigrasian menolak surat KK tersebut. Gua diharuskan mengurus/memperbaiki KK tersebut di Kantor Dinas Catatan Sipil. Gua sempat berargument hebat dengan petugas tersebut, karna menurut gua ini tidak masalah sama sekali, toh semua datanya sama dan tidak ada yang mencurigakan. Hanya kertas KK yang sedikit cacat, namun petugasnya tetap bersikukuh tidak mau memproses berkas-berkas gua.

Terpaksa, gua balik lagi ke Catatan Sipil untuk memperbaharui KK, dan ini juga tidak gampang. Antrian sudah sampe 300 lebih saat gua tiba di kantor Catatan Sipil. Ondeeehhhh....kepala gua rasanya berdenyut-denyut mau meledak. Dengan penuh kesabaran, ini itunya surat KK gua yang baru sudah keluar, namun pukul telah menunjukkan lima sore which mean jam kantor sudah tutup. Sial, terpaksa gua menginap satu hari lagi di Simarasok.

Rabu, 29 Juli 2015
Hari ketiga, dengan perasaan malas yang sangat buesar gua balik lagi ke kantor keimigrasian. Berkas gua lulus pemerikasaan. Fuihhh....lega rasanya. Sekarang tinggal menunggu panggilan ke ruang foto dan wawancara. Ini prosesnya juga lama dan gua rasa pantat gua jadi menipis beberapa milimeter akibat kelamaan duduk -__-

Senin, 3 Agustus 2015
*sujud syukur* akhirnya si buku ijo kecil ini bisa juga gua peroleh....
Tiket ke luar negeri sudah digenggaman tangan
Bukit Tinggi, Sumatera Barat


***

Kamis, 09 Juli 2015

Ketika Mama Sakit



Kalau tagline dari Avatar adalah “semua berubah saat Negara Api menyerang”, cerita gua kali ini taglinenya adalah “semua berubah saat DBD menyerang” dan kali ini yang diserang adalah Mama gua sendiri. Kisahnya begini…

Kamis, 2 Juli 2015
Sejauh yang gua ingat, hari itu suasana rumah masih seperti biasanya. Masih santai berleha-leha karna siang hari begitu terik. Rasa haus begitu terasa karna puasa. Malam harinya setelah sholat Isya, Mama langsung tidur. Tumben, pikir gua. Biasanya beliau santai-santai dulu sambil nonton tv.

Jum’at, 3 Juli 2015
Setelah rapi, bersih, dan wangi gua siap-siap hendak pergi ke Masjid menunaikan Sholat Jum’at berjamaah. Celingak celinguk mencari keberadaan Mama karna gua hendak pamitan mau pergi. Loh, siang hari yang begitu panas mama malah berselimut di dalam kamar. “Mama kenapa?”, tanya gua. Gua tempelkan tangan gua ke kening beliau. Terasa sangat panas, ini pasti demam. Waktu itu gua menduga cuman demam biasa, jadi gua cuman memberikan obat parasetamol saja. Berharap demam beliau segera sembuh.

Sabtu, 4 Juli 2015
Keadaan mama gua kian bertambah buruk. Pagi itu mama langsung dilarikan ke Puskesmas terdekat. Gua menduga ini bukan bintang demam biasa. Pasti DBD dan ternyata setelah diperiksa petugas paramedis memang positif DBD. Gua langsung balik pulang kerumah, menyiapkan semua kebutuhan selama di Puskesmas nanti. Mulai dari bantal, selimut, pakaian ganti lengkap, serta tiga botol air mineral besar yang gua beli di dekat rumah. DBD kan harus minum banyak air putih. Hari pertama dirawat, suhu tubuh mama naik turun secara drastis. Terkadang sangat panas, terkadang mengigil kedinginan seperti berada di kutub. Benar-benar unpredictable, ditambah lagi dengan mual dan mencret hebat. Puskesmas memang tidak selengkap Rumah Sakit, jadi gua harus bolak balik ke laboratorium untuk memberikan sampel darah dan rasanya hari itu lelah luar biasa. Ingin rasanya membatalkan puasa karna rasa haus yang ‘tak tertahankan, tapi Alhamdulillah masih kuat sampe Maghrib (hehehe…) Mama gua itu tipe orang yang sangat rewel kalau sedang sakit, bukannya gua gag tahu gimana rasanya kena DBD (karna waktu di Jogja dulu gua juga pernah kena DBD) tapi mama sangat susah disuruh untuk minum air putih. Kalaupun dipaksa, pasti muntah lagi. Hasil lab pun memberi gambaran serupa, trombosit mama turun sampe 126.000 dengan suhu 39,50C sangat membuat gua frustasi.

Minggu, 5 Juli 2015
Mama terlihat lebih baik daripada kemarin, bahkan beliau sudah mulai ada nafsu makan. Gag rewel lagi kalau gua suruh banyak minum, makan buah, dan minum obat. Hanya saja itu cuman bertahan beberapa jam. Panas tinggi kembali silih berganti dengan rasa dingin yang luar biasa. Ini bahkan berlanjut sampai malam. Gua gag bisa tidur karna harus memantau keadaan mama. Menemani ke kamar mandi, memegangkan gelas agar beliau bisa minum, memijit, atau sekedar mengelap keringat. Ngantuk banget, cuman gua tahan karna dulu gua juga dijagain full 24 jam hehehe…. Berbagai macam obat juga sudah gua berikan, mulai dari jus jambu biji, pocari sweat, sari buah kurma, air rebusan beras merah yang langsung gua pesan dari Padang bahkan ramuan herbal ANGKAK pun juga gag luput gua kasih. Namun tetap saja, apa yang sudah masuk ke dalam perut pasti dimuntahkan kembali.

Senin, 6 Juli 2015
Hasil lab di hari kedua dirawat menunjukan hasil yang cukup memuaskan, trombosit mama yang dari 126.000 naik menjadi 133.000. Meskipun begitu, rasa nyeri di ulu hati masih tetap ada. Muntah-muntah dan mencret gag pernah berhenti. Semakin parah saat malam hari, sedetikpun mama gag luput dari pantauan gua. Panas tinggi dan rasa dingin yang mengigil datang silih berganti kaya kenangan mantan.

Selasa, 7 Juli 2015
Yiiipppiiiiii, suhu tubuh mama sudah normal. Dari pagi sampai malam tidak ada perubahan drastis. Nafsu makan mama sudah kembali, bahkan beliau sudah bisa jalan sampai ke ruang tunggu di lorong Puskemas. Hasil lab di hari ketiga pun menunjukkan irama serupa. Trombosit mama sudah sampai 140.000 dan terus membaik. “Besok kita bisa pulang nih”, kata gua :))

Rabu, 8 Juli 2015
Ternyata kami cuman di PHPin. Mama kembali drop, namun bukan karna suhu tubuh yang tinggi, muntah, atau mencret lagi tapi karna sakit kepala yang luar biasa. Para paramedis yang berjaga dan dokter juga terheran-heran. Normalnya pasien DBD tidak mempunyai gejala seperti ini. Hari ini batal pulang mengingat kondisi mama yang tidak memungkinkan. Dari pagi, sakit kepala mama semakin bertambah parah, dan ini berlangsung sampai malam. Gua juga harus bolak-balik ke Rumah Sakit untuk membeli obat karna obat-obatan di Puskesmas tidak begitu lengkap.

Kamis, 9 Juli 2015
Sebenarnya fase kritis dari penyakit DBD mama sudah terlewati dan mama dinyatakan sembuh, namun gara-gara “penyakit dadakan” sakit kepala ini dokter enggan untuk mengizinkan mama untuk pulang. Tapi mama tetap bersikeras ingin pulang. Saat tulisan ini dibuat, mama gua sedang beristirahat dikamar. Sakit kepalanya memang tidak sehebat hari kemarin, cuman sepertinya suasana rumah lebih membuat nyaman dibandingkan dengan di Puskesmas. Obat-obatan yang diberikan oleh dokter nampaknya juga sudah mulai bereaksi dan Alhamdulillah sekarang kondisi mama gua sudah jauh lebih baik. Mungkin memang harus banyak istirahat, karna asli kena DBD itu bikin badan lemah selemah-lemahnya.

catatan : mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa mama gua dirawat di Puskesmas bukannya di Rumah Sakit. Gua dan keluarga punya alasan tersendiri kenapa memilih di rawat di Puskesmas. Ini sebenarnya simple namun sangat penting terutama bagi pasien. Keramahan. Yup, keramahan. Bukannya mau menjelek-jelekan RSUD gua sendiri, hanya saja para paramedis di RSUD disini terkenal dengan keramahannya yang rendah. Berbeda dengan di Puskesmas tempat mama gua dirawat, paramedis disini ramah dan ucapannya sopan. Namun diluar dari itu, sehat itu mahal memang terbukti adanya. So, tetap jaga kesehatan ya :))
Lubuk Basung, Agam

***

Jumat, 01 Mei 2015

Menyerah? Jangan Harap !!!



Beuh, debu-debu di blog ini sudah menebal seperti karat di anjungan kapal saja. Sorry to say guys, gua baru sempat nulis lagi karna frekuensi  mood gua akhir-akhir ini sedang pasang surut (read, labil). O yeah, this is May and you should already know that today is May Day. 1 Mei adalah harinya para buruh dan sekarang di Bundaran HI dan sekitar Sudirman sana semuanya lagi pada demo. Manusia tumpah ruah di jalanan, but postingan kali ini gag akan ada sangkut pautnya dengan buruh hehehe…
By the way, anyway and the busway (apa sih gaje lo) lo pernah gag ngerasain kegagalan? Gua rasa pasti pernah lah ya. Entah itu kegagalan dalam pertemanan, pendidikan, maupun percintaan. OK gua akui kalau poin yang terakhir itu emang nyesek banget di dada, trust me I know how that’s feeling. Tapi bukan itu yang mau gua bahas, kali ini gua mau bahas tentang kegagalan gua dalam pendidikan.

Flashback ke tahun 2009. Gua ingat banget tahun itu, tahun ketika gua lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan rasa percaya diri gua ngelamar ke sebuah sekolah paling favorite di Provinsi gua. Sekolah yang berada di tepian Danau Maninjau nan indah. Sekolah yang memiliki asrama, seragam seperti taruna dan kurikulum yang sangat baik. Beuhh, gua pasti keren kalau gua bisa sekolah disini, seperti itulah pikiran gua kala itu. Semua syarat dan test (fisik dan tertulis) gua lalui dengan lancar, dan hari pengumuman kelulusan tiba. Gua gagal! Perasaan gua waktu itu campur aduk, rasanya seperti kopi dicampur dengan susu kambing, dua butir kuning telur, madu, daun sirih, kemenyan, kulit manis bakar, dan sedikit upil berdiameter 2,5 cm. Gag karuan bro! Gua langsung menghadap ke Yang Maha Kuasa ruang kepala sekolah, mempertanyakan kenapa gua gag lulus seleksi. Bukannya sombong, tapi selama test tertulis gua merasa mampu menyelesaikan semua jawaban walaupun ada beberapa soal yang memang sulit untuk gua pecahkan. Gua meminta kepala sekolah untuk memperlihatkan lembar jawaban gua. Jika memang banyak jawaban yang salah berarti memang gua yang bodoh, tapi kepala sekolah menolak dengan alasan itu adalah rahasia sekolah. Rahasia apaan, fvck banget dah. And you know what, gua semakin tersulut emosi saat mengetahui teman satu les gua lulus padahal satu sekolahan tahu kalau doi itu IQ nya jongkok (walaupun setahun kemudian gua tahu kalau dia DO (drop out) karna gag kuat hahaha).

Gagal dipercobaan pertama gag membuat gua patah arang. Target gua selanjutnya adalah sebuah sekolah farmasi terkenal di kota berudara sejuk, Bukittinggi. Menjadi apoteker tidaklah buruk, that’s would be fun. Sama seperti sekolah sebelumnya, semua syarat dan test (fisik dan tertulis) gua lalui dengan lancar jaya tapi hasilnya tetap sama. Gua gagal untuk yang kedua kalinya, tapi kali ini bukan gua yang ngotot untuk mempertanyakan kenapa gua gag lulus. Mama gua langsung menyambangi kantor sekolah, tapi lagi-lagi pihak sekolah tidak mau memberikan lembar jawaban gua dengan alasan rahasia sekolah. Usut punya usut, gua diberitahu oleh salah satu senior di sekolah itu bahwa sepintar apapun kalau tidak memiliki orang dalam gag akan mungkin bisa masuk. Shit, seburuk inikah sistem pendidikan di Indonesia? Tapi gua sedikit lega, meskipun gagal tapi gua peringkat 20 besar nilai kelulusan. How do I know that? Senior itu yang member tahu, karna dialah yang memeriksa semua lembar jawaban. Kecewa, pastinya! Mungkin gua emang gag jodoh dengan sekolah ini. Gua mungkin jodohnya sama lo, hahaha…

Waktu tahun ajaran baru semakin mepet, sedangkan gua sudah ditolak di dua sekolah. Tidak ada pilihan lain lagi, sekolah formal biasa menjadi pilihan terakhir. Meskipun agak berkecil hati, tapi ini masih jauh lebih baik daripada orang-orang diluar sana. Banyak yang tidak bisa sekolah. Alhamdulillah, gua masih bisa sekolah :))

Horeeeeee…..tahun 2012 gua lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Manis pahitnya kehidupan putih abu-abu sudah gua rasakan. Banyak kenangan seru, sedih, tawa, dan canda terpatri dalam dada. Kelulusan identik dengan coret-coretan baju, tapi karna kepribadian gua yang agak sedikit berbeda (read, introvert) setelah pengumuman kelulusan gua langsung pulang. Oleh sebab itu, gua gag punya foto bersama teman-teman kelas gua yang penuh dengan warna warni dari cat semprot. It’s okay…
                Selanjutnya apa? Yup, lanjut ke perguruan tinggi. Jika teman-teman gua sibuk bimbel sana sini, gua malah sebulan penuh liburan di kota bertuah, Pekan Baru. Bukan tanpa alasan, karna enam bulan sebelum kelulusan gua sudah sibuk duluan. Mengurus semua berkas-berkas untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Swasta di kota pelajar, Yogyakarta. Menjadi seorang sarjana pertanian (SP) memang bukan cita-cita gua, tapi melihat prospek dijanjikan kedepannya baik makannya gua tertarik.

September 2012, kehidupan gua sebagai mahasiswa di kota gudeg dimulai. Semua berjalan baik dan menyenangkan. Mulai dari nilai-nilai dari setiap semester gua yang memuaskan, bertemu manusia-manusia dari Aceh sampai Papua, nuansa Jogja yang sangat nyesss di hati. That’s was so amazing, dude. Gua juga gag akan lupa saat gua terjangkit Demam Berdarah (DBD) pasca liburan semester tiga. Hahaha, rasanya waktu itu gua pengen cepet-cepet ke alam barzah. Sakitnya gag ketulungan.

Kesenangan gua berakhir, tahun 2014 adalah tahun terburuk dalam hidup gua. Nilai semester gua anjlok, semua nilai-nilai gua turun seterjal jurang di laut Mediterania. Orang tua kecewa, dan keputusan akhir adalah gua “dipulang paksa”. Gagal untuk yang ketiga kalinya. Apa yang terjadi setelah itu gag bisa gua ceritakan, sejauh yang gua ingat adalah rasa duka, malu, dan kecewa yang sangat teramat dalam. Catatan hitam terbanyak yang pernah gua tulis. Gua menarik diri dari peredaran. Diam adalah hal paling nyaman untuk gua lakukan saat itu (meskipun sampai sekarang gua masih nyaman dengan itu). Banyak tawaran dari orang-orang sekitar mulai dari pesantren, Pegawai Negeri Sipil (PNS), bank atau apalah itu. Gua menolak semuanya mentah-mentah. Saat itu dunia berasa hitam putih. Gag ada semangat sama sekali untuk hidup, bahkan untuk sekedar bernafas pun gua merasa malas. Kegagalan demi kegagalan terasa terus mentertawakan hidup gua. Gua down, berada dititik nadir terendah.

Awal tahun 2015, tawaran terakhir muncul dari abang tiri gua. Awalnya gua juga menolak karna menjadi seorang peluat bukanlah cita-cita gua. Sama sekali tidak pernah terlintas untuk bisa menjadi seorang seaman. Namun ketika melihat orang tua gua terutama Mama, gua kembali berpikir. Gua gag mungkin selamanya terus begini. Gua punya hidup yang harus gua jalani, gua juga punya adik yang menjadi tanggung jawab sampai mati. Gua harus bangkit! Masa lalu gua boleh kelam, tapi masih ada kemungkinan gua untuk mencerahkan masa depan. Tawaran tersebut gua terima, and here I’m now at Jakarta. Meskipun jalan gua untuk menuju kesuksesan masih lama, tapi gua optimis perjuangan gua kali ini gag akan sia-sia. Menyerah, Jangan Harap !!!

Rawamangun, Jakarta Timur



               
*** 

Jumat, 13 Maret 2015

The Power of Hay



The power of hay? Emang apa sih kekuatan dari satu kata yang cuman terdiri dari tiga huruf ini? Mungkin itulah yang terbesit di kepala lo saat membaca judul dari tulisan ini. Jujur, gua pribadi sebenarnya juga gag ada yang spesial dari kata hai ini. Hai cuman kata sapaan paling sederhana diantara kata sapaan yang lain seperti "apa kabar".

Pernah gag lo ngebayangin darimana suatu pembicaraan bisa terjadi dengan begitu sangat lama? Yup, dialah kata hai yang memulai segalanya. Kata hai inilah yang bisa membuat kita lupa akan waktu karna pembicaraan yang terjadi begitu sangat panjang. Kata hai jualah yang mampu membuat manusia yang awalnya tidak saling kenal menjadi akrab. Membuat para tuna asmara menjadi kusut setelah mendapat sapaan hai dari mantan.

Hai adalah kata sederhana yang memiliki banyak makna. Hai bisa membuat perasaan seseorang menjadi berpohon-pohon (karna berbunga-bunga sudah terlalu mainstream) tatkala disapa oleh sang pujaan hati, tapi karna hai jua lah yang juga bisa membuat proses move on seseorang yang hampir 99,99% menjadi gagal karna sapaan hai dari mantan (rasain lo).

Hai juga bisa menjadi kata yang cukup mematikan bila digunakan mantan untuk membuat perasaan menjadi uring-uringan. Semua rasa terbawa akibat satu kata ini. Dalam kasus yang lebih berat, kata hai bisa membuat seseorang yang sedang dalam proses move on menderita ilusi kenangan akibat terbuai dengan kata hai.

Namun bagaimana jika sang mantan sudah terlanjur mengatakan hai? Atau bagaimana jika lo sendiri yang keceplosan mengatakan hai saat gag sengaja berpapasan di depan toilet? Well, pilihan ada ditangan kalian. Mengatakan hai duluan tidak akan membuat derajat lo menjadi hina, tetapi jangan mentang² lo disapa duluan terus lo merasa bangga dan besar kepala duluan. Terkadang orang yang mengatakan hai duluan adalah orang yang ingin bernostalgia tanpa mengulang kembali kejadian yang pernah terjadi. Cukup jadikan yang manis tetap menjadi manis, dan lupakan pahit. Kalau masih pahit, gua saranin lo buat nambahin gula.

So, say hay lah pada semua orang, agar tercipta pembicaraan yang seru dan mengenang. Salam mata blogger :))


Lubuk Basung, Agam



***

Sabtu, 28 Februari 2015

Maksiat kok Bangga?



First, gua bukannya mau sok sok ngajarin mana yang bener mana yang gag karna kadang gua juga rada² gag bener. Cuman sebagai manusia, kita kan udah dikasih akal pikiran sama Allah, yo digunain dengan pantaslah. Gua memang bukan orang yang agamis (sholat aja masih sering bolong) tapi seenggagnya gua masih tetap berusaha untuk jadi seorang hamba yang taat.

Apa yang gua denger hari ini bener² bikin gua shock. Sebut saja seorang tetangga gua yang akrab dipanggil Babe mengatakan hal yang sama sekali gag pantas untuk orang seusia beliau. Gua gag tahu darimana awal pembicaraan Babe dengan rekan²nya, namun yang pasti Babe melontarkan pernyataan bangga akan apa yang beliau lakukan. "Saya emang gag Sholat. Ngapain sholat, toh orang jahat masih tetap ada." Kurang lebih seperti itulah pernyataan yang dilontarkan Babe yang diiringi gelak tawanya.

Harusnya Babe mikir, dengan Sholatpun terkadang masih banyak dari kita yang berbuat salah, apalagi gag Sholat, ya makin salah dong. Ibarat lo naik gunung, para pendaki yang udah prepare segala alat seperti GPS, Peta, dll pun terkadang masih bisa salah jalur trek juga. Apalagi yang gag ada alat sama sekali, sudah pasti bakalan nyasar.

Gua geram, pengen banget rasanya berargument sama Babe. Cuman gua tahu Babe orang dengan tipikal gag mau denger omongan orang lain. Gua udah ngebayangin kalau gua nasehatin Babe, pasti bakal dibilang "Kamu masih muda, memangnya tahu apa? Saya ini lebih dulu ngerasain asam pahitnya dunia." Shiitt, gua tahu mendiamkan suatu persoalan itu gag baik, tapi daripada gua kesulut emosi duluan gua lebih milih beranjak dari tempat ini. Semoga Babe dapat pencerahan.

Padang, Sumatera Barat


***

Kamis, 26 Februari 2015

di(KERJA)in PT. MANDIRI CIPTA HARMONI (MACHO)



Segera mendapat pekerjaan dan memiliki penghasilan sendiri adalah dambaan setiap job seeker, termasuk juga dengan gua dan inilah pengalaman gua ketika di(kerja)in di PT. CIPTA HARMONI (MACHO).

Gua memperoleh informasi tentang perusahaan ini ketika gua melihat² lowongan yang terpampang di papan informasi di kantor pos pusat. Perhatian gua berhenti ketika melihat lowongan ini. Job yang ditawarkan sesuai dengan apa yang gua cari, selain itu semua syarat bisa gua penuhi.

Gua hanya 1½ hari bergabung dengan perusahaan ini. Dimulai dari tanggal 24 sampai 25 Februari 2015. Gua melamar posisi sebagai Administrasi tapi gua gag bisa langsung merasakan posisi tersebut. Kenapa? It's just a simple answer, posisi itu memang tidak pernah ada. Gua malah diarahkan untuk masuk di Management Trainee (MT). Rasa penasaran adalah alasan kenapa gua masih tetap bersedia untuk bergabung dengan perusahan ini, dan rasa penasaran ini mulai terkuak sedikit demi sedikit. Perusahaan ini berorientasi untuk menciptakan manager² muda baru yang ujung²nya pasti menjadi manager marketing. Dari 8 orang pelamar yang datang hari itu, gua yakin semua memiliki tujuan yang sama yakni ingin menempati posisi yang mereka minati tentunya seperti Admin, Gudang, SPV, dll. Tapi gua yakin seyakin  air laut itu memang asin bahwa posisi² tersebut tidaklah pernah ada.

Persepsi awal gua tentang perusahaan ini sebenarnya cukup positif. Gua yakin jika semua perusahaan menerapkan sistem yang dijalankan PT. MACHO ini, sistem marketing perusahaan pasti akan sangat fantastis. Namun ya itu, sangat disayangkan, betapapun baiknya sistem perusahaan jika kejujuran tidaklah ada itu sama saja dengan omong kosong. Semua orang diiming-imingi dengan posisi dan gaji tinggi, but trust me impian itu tidak akan pernah terwujud. Kebohongan yang budak² (gua lebih suka menyebutkan istilah "karyawan" dengan sebutan "budak") antara lain :
  • Ketika gua menanyakan kenapa harus observasi kelapangan padahal posisi yang gua lamar sebagai Admin. Entah apa hubungannya. Consultant gua cuman menjawab jika semua posisi memang harus merasakan dulu yang namanya observasi lapangan. Fine, untuk penjelasan awal gua terima semua jawaban itu. Sesampai dilapangan, tidak jauh panggang dari api. Ini memang sales! Kami semua  door to door mulai dari sekolahan sampai ke pasar² menawarkan produk sandal refleksiologi BlueID. Modus awal adalah dengan mengaku-ngaku sebagai mahasiswa PKL dari POLTEKES yang mendapat amanat (cie lagaknya sok banget ngaku² mahasiswa) dari Rumah Sakit pusat untuk mensosialisasikan alat kesehatan. Tidak luput juga dengan menjelaskan bahwa akan diadakan seminar tanggal sekian di RS tertentu, padahal semua itu hanya omong kosong (lagi). Gua yang hanya menjadi pemerhati kala itu cuman bisa memandang dengan ekpresi datar, padahal pikiran gua ngakak abis. That's was so funny man when see them offering that fucking product.
  • Gratis! Ya itu adalah senjata andalan. Budak² itu mengaku jika alat ini adalah gratis. Bahkan parahnya, budak² itu mengatakan kalau alat kesehatan ini adalah subsidi dari pemerintah sehingga bisa gratis. Fuck banget gag tuh.
  • Halalkan segala kata. Gua rasa itu adalah motto budak² itu.
  • Semua budak diwajibkan untuk datang mulai dari jam tujuh pagi sampai jam lima sore. Sebenarnya mereka nyari karyawan manusia apa robot? Hahaha...gag peduli mau tanggal merah kek, mau ada tsunami kek, yang penting para budak itu tetap harus bekerja agar target perusahaan bisa bisa tercapai.
  • Para budak itu sangat handal dalam hal pendekatan terhadap anak² baru. Cara bicara mereka, cara mereka mengambil hati para anak baru sungguh sangat manis. Untuk yang satu ini gua acungin jempol, setidaknya gua bisa dapat trik² dalam hal PDKT. Siapa tahu trik² itu manjur kalau gua mau nembak cewek nantinya. Hahahaha....
Jreng...jreng....jadi inilah kesimpulannya :

PT.MACHO akan selalu memasang iklan lowongan kerja ini dengan berbagai macam posisi (yang sebenarnya tidak pernah ada) yang sangat menggiurkan (awas iler lo keluar tuh). Satu-satunya posisi yang ada hanyalah Management Trainee (MT).

Tulisan gua ini bukan bermaksud untuk mencemarkan nama tertentu (padahal memang sudah tercemar) Gua cuman sharing atas apa yang sudah gua alami dengan PT. MACHO ini. Gua cuman gag mau adalagi yang masuk jebakan betmen menjadi Sales produk kesehatan yang gag jelas (segag jelas hubungan percintaan gua, apa sih) apa dan bagaimanya itu, tapi kalau lo, lo, dan lo pada masih mau mencoba dan merasa cocok dengan perusahaan itu silahkan dicoba. Gua gag berniat menutup pintu rezki atau apapun itu. Buat gua pribadi, gag deh sama perusahaan absurb kayak gini. Hahaha... Gua menceritakan hal ini, semata-mata hanya ingin berbagi pengalaman saja. Sekian dulu, salam worka holic.


Padang, Sumatera Barat


***

Sabtu, 14 Februari 2015

(SKSD) Si Kucing Sok Dekat



Apo kaba semuanya, moga sehat ya. Hari ini gua ngerasa fit banget, rasanya badan ini kayak baru bangkit dari kubur dapat suntikan energi dari meteor raja api (ngayal). Setelah seminggu lebih terserang penyakit demam cinta panas, gua putuskan hari ini untuk berangkat ke Padang. Gua pengen kerja. Jemu rasanya lama-lama cuman mendem dalam kamar, ya lah kalau mendem durem mah enak, ini mendem dalam kamar gag ada enaknya sama sekali.

Pukul 14.30 waktu daerah dekat rumah gua, mobil travel (maklum ya gua masih miskin) yang dipesan Mama  udah nangkring di depan halaman rumah. Tanpa lupa melakukan ritual wajib, gua salami tangan Mama dan Papa sembari mohon doa biar gua segera dapat kerja. Good bye kampungku, seenggagnya berkurang satu makhluk jomblo ditempat ini, hahaha....

Gua gag akan ceritain apa yang terjadi selama di perjalanan, toh gag ada juga hal menarik yang bagus untuk diceritakan. Dua jam perjalanan, akhirnya gua tiba di Padang. Terus gua mau kemana nih, gua mau tinggal dimana? Arghhh...gua mendadak panic at the disco. Apa gua harus nge-gembel di kolom jembatan? Apa gua harus minta-minta di pelataran masjid. Ah, gag sampai segitunya lah.

Di Padang, gua hidup menumpang (ngenes banget) di rumah Adang gua. Oh iya, yang belum tahu Adang itu apa (sejenis makanan mungkin) gua bakal jelasin dikit. Adang merupakan sebutan dalam kekerabatan adat Minangkabau kepada saudara laki-laki tertua dari orang tua. Adang yang berasal dari kata gadang (yang kemudian dipersingkat menjadi Adang) dalam bahasa Minang berarti besar. Jika dimasukkan kedalam sebutan kekerabatan, Adang berarti tua. Jadi Adang adalah saudara laki-laki tertua orang tua. Ngerti kagag, kalau gag ya yang pasti Adang itu kakak laki-laki tertua dari Ibu gua (woyyy ngomong dong dari tadi, ngoceh gag jelas aja bisanya!!)

Tibanya di rumah Adang, gua disambut pake mercon dan kembang api oleh Istri Adang yang biasa gua panggil dengan sebutan Bunda. Diliat dari rona wajahnya, Bunda kayaknya baru bangun tidur. Kentara banget terlihat dari iler raut wajahnya. Gua sebagai laki-laki yang baik hati pake banget nget nget langsung menyalami tangan Bunda. Usut punya kusut ternyata Bunda kena demam juga, hahaha kasian banget. Kenapa kasian? Ya kasian aja, lagi sakit tapi suami gag ada di rumah. Adang kerja di Jakarta. Berangkat 6 hari kemudian pulang cuman 2 hari. Resiko pekerjaan. Salah satu alasan gua kesini biar bisa nemenin Bunda di rumah yang sendirian.

Gua capek, bukan karna perjalanannya tapi karna suhu kota Padang yang emang terkenal panas cetar membahana badai ulalala membuat gua lemes. Gua pun setelah meletakkan barang-barang ke dalam kamar, memutuskan untuk duduk-duduk di samping pintu di ruang tengah. Lagi asyik selonjaran, eh..tiba-tiba nongol makhluk yang gak gua ketahui sama sekali dari mana datangnya. Makhluk yang semenjak 5000 SM ini sudah dipelihara manusia sebagai hewan peliharaan. Yup, betul banget. Kucing!!!

Walaupun gua pencinta berat ama hewan yang satu ini, tapi gua belum pernah melihat kucing ini sebelumnya. Gua bahkan gag tahu kalau Bunda juga punya peliharaan. Awalnya gua ngerasa risih. Gag ada hujan gag ada angin, tiba-tiba ini kucing langsung aja sok manja-manjaan ama gua. Kaki gua yang lagi selonjoran diusap-usap menggunakan punggungnya. Kucing aneh, gua ngebathin. Setahu gua, kucing gag akan seakrab itu sama orang asing. Tapi yang ini beda. Apa gua terlalu berkharisma ya sampai-sampai kucing yang belum pernah gua temui langsung terkesima!? Hahahaha #TimpukBata...

Satu hal yang pasti, gua bakal betah banget dirumah kalau ada makhkuk satu ini. Jomblo berkharisma dengan Kucing penuh pesona??? Thats would be absolutelly a fucking perfect combination. Hahahaha...

Buat yang penasaran, nih penampakan si Kucing
Si Kucing Sok Dekat

Padang, Sumatera Barat


***

Rabu, 11 Februari 2015

Gampangnya Mengurus SKCK (First Article)



Sebagai postingan perdana di blog ini, gua sempat bingung hendak mau posting apa. Apalagi gua yang hanya seorang blogger amatiran selalu punya problem klasik sebagai blogger pemula yakni bingung hendak menulis apa.

Setelah kira² dua jam gua blogwalking wara-wiri singgah sana sini ke berbagai macam blog, gua nangkap sebuah kutipan bahwa memposting sebuah artikel itu tidak usah takut apakah tulisan yang elo posting itu apakah bakal diliat dan dikoment oleh banyak orang. Posting saja apa yang elo mau, posting saja apa yang sedang ada dikepala lo saat ini. Lalu gua pun mikir, baiknya gua posting apa ya?? Mendadak muncul bola lampu yang menyala disebelah kanan gua (itu loh kayak yang ditipi-tipi saat seseorang mendadak dapat ide lalu ada bola lampu menyala yang nongol).

Gua sampe detik nulis ini blog masih berstatus sebagai pengangguran (haduh kasian amat),  malu lah udah seumuran ini masih belum punya pekerjaan juga. Berawal dari keadaan gua yang pengangguran inilah gua berniat untuk mencari kerja ke ibukota provinsi tempat gua tinggal. Tentu saja, jika seseorang hendak melakukan perjalanan diharuskan membawa perbekalan, gua sebagai job seeker pun kudu punya semua surat yang lengkap dalam melamar pekerjaan nantinya, dan salah satu yang terpenting adalah Surat Kelakuan Catatan Kepolisian a.k.a SKCK.

Meskipun kondisi badan yang kurang fit karna gua sedang demam, jam 10.30 gua tetap memaksakan diri pergi untuk mengurus SKCK gua. Motor Honda Beat putih pun gua gas menuju ke kantor polisi, selang 10 menit gua tiba dan disambut dengan tarian penyambutan. Gag lah, gua cuman becanda hehe... Kantor polisinya begitu sepi, tapi gua maklumin lah namanya juga kantor polisi di daerah kecil ya pastinya gag sesibuk kantor-kantor polisi yang ada diperkotaan.

Gua pun melangkah menuju ke ruang Permohonan Penerbitan Surat Keterangan Catatan Kepolisian. Di dalam ruang itu sudah ada seorang perempuan petugas administrasi berpakaian serba putih yang tengah menghadap kearah layar komputer keluaran hP. Sejenak gua sempat gagu, gua lagi ada dikantor polisi apa lagi ada di rumah sakit yakk?? Lamunan gua buyar saat ditegur oleh mbak-mbak admin tersebut.

"Ada yang bisa dibantu?", katanya ramah. Gua pun agak silap kata, "eh..iya mbak, saya mau buat SKCK". Mbak itu pun membalas, "Mau buat baru apa diperpanjang?", tanyanya. Gua pun jawab kalau gua mau buat baru. Gua kemudian menyerahkan 2 buah map berwarna merah, fotocopy KTP, pas foto ukuran 4x6 sebanyak 6 lembar dan seperangkat alat sholat (ehh..yang terakhir gag beneran).

Gua kemudian diberikan 2 formulir yang harus gua isi. Dikarenakan suasana yang agak panas, gua putuskan untuk mengisi formulir itu didalam kulkas diberanda kantor. Tepatnya dibawah pohon dekat parkiran motor. Lumayan adem disana. Set..set..set..gag nyampe 15 menitan, semua formulirnya udah gua isi lengkap. Gua pun kembali ke Yang Maha Kuasa ruangan tempat mbak-mbak berseragam putih tadi. Formulir gua pun diperiksa, dan setelah itu gua diarahkan keruangan dilorong sebelah kiri untuk rekam fisik.

Di ruang rekam fisik, lagi-lagi gua disuruh ngisi sebuah formulir. Formulir kali ini lebih kecil dan banyak kotak-kotaknya. Petugas di ruang rekam fisik yang belakangan gua ketahui bernama Bpk. Sumardi ini nge guide gua ke meja kecil dimana warna meja itu sangat hitam. Jari tangan gua diarahkan ke meja itu, dan gua pun sadar bahwa warna hitam itu adalah tinta untuk sidik jari yang akan ditempelkan di formulir yang banyak kotak-kotaknya itu.

Setelah sepuluh sidik jari tangan gua dicetak diatas kertas, gua dikasih sabun colek dan disuruh untuk mencuci tangan di musholla di halaman kantor. Busyeett, cemong banget tangan gua kayak tukang bengkel habis ngebongkar mobil jeep. Setelah mencuci tangan, gua pun balik ke ruang rekam fisik. Biaya rekam fisiknya cukup murah, hanya Rp. 15.000,-

Rekam fisik pun selesai, gua diarahkan oleh Bpk. Sumardi dengan suara bassnya ke ruangan dimana gua ambil formulir permohonan penerbitan surat kelakuan catatan kepolisian tadi. Mbak-mbak berseragam putih itu menerima formulir rekam fisik gua. Gag berselang lama, ya sekitar 5 menitan lah, nama gua dipanggil dan SKCK gua pun jadi. Karna alasan gua membuat SKCK ini adalah untuk melamar pekerjaan nanti, mbak-mbak itu menyarankan gua untuk mem-fotocopy SKCK tersebut sebanyak 7 lembar.


SKCK
Gua pun langsung menuju tempat fotocopy yang ada disamping kantor polisi, setelah itu seluruh copyan dari SKCK dilelalisir oleh mbak-mbak tadi. Disini gua kena biaya administrasi sebesar Rp. 15.000,- Jadi, total keseluruhan biaya dalam pembuatan SKCK ini adalah sebesar Rp. 30.000,-


Well, setelah semuanya selesai gua pun langsung cabut pulang menuju rumah. Suasana yang panas dan bolak-balik sana sini membuat kepala gua pusing. Sekitar pukul 12.00 siang gua tiba dirumah dan langsung menghempas badan keatas kasur. That's enough for today.



Lubuk Basung, Agam


***